KETIK, PACITAN – Sedikitnya ada belasan siswa di wilayah Tegalombo, Kabupaten Pacitan, diduga mengalami keracunan hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Kepala Dinkes Pacitan, dr. Daru Mustikoaji membenarkan hal tersebut.
Ia mengatakan bahwa hasil uji laboratorium belum dapat dipastikan dalam waktu dekat.
Sampel makanan saat ini masih diuji secara mendalam di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Surabaya.
“Kita masih mendalami zat kimia dalam makanan. Sampel sudah dibawa ke Labkesmas Surabaya dan kami koordinasikan secara cepat (cito). Kisaran hasil keluar 4–5 hari, tetapi semoga bisa lebih cepat,” ujar Daru kepada Ketik.com, Sabtu, 11 Maret 2026.
Selain menunggu hasil laboratorium, Dinkes mengaku juga telah mengambil sejumlah langkah penanganan.
Daru menjelaskan, pihaknya telah melaporkan kejadian ini kepada Satuan Tugas MBG dan meneruskannya ke Badan Gizi Nasional (BGN).
“Dinas kesehatan melaporkan kepada satgas MBG kejadian dan dugaan keracunan makanan diteruskan ke BGN, sambil kita memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
Tak hanya itu, investigasi juga dilakukan secara menyeluruh dengan mengambil sampel dari dapur SPPG serta dari para penderita.
Tim kesehatan juga melakukan kunjungan rumah untuk memastikan kondisi lingkungan masing-masing siswa.
“Pemeriksaan mencakup sampel dari SPPG maupun penderita, serta kunjungan rumah untuk memastikan kesehatan lingkungan masing-masing penderita,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden dugaan keracunan tersebut menyebabkan sebanyak 12 siswa dari jenjang TK hingga SMP harus menjalani perawatan di Puskesmas Pembantu Tegalombo sejak 9-10 Maret 2026.
Siswa yang menjadi korban berasal dari beberapa sekolah, di antaranya di Desa Kebondalem, Gedangan, Ngreco, Kemuning, dan Tegalombo.
Gejala yang dialami para penyantap MBG relatif seragam, mulai dari mual, muntah, hingga diare.
Berdasarkan diagnosis awal, kondisi tersebut mengarah pada gastroenteritis akut.
“Dugaan sementara keracunan, namun masih dalam pendalaman lebih lanjut,” tambah Daru.
Dalam insiden ini, potensi adanya korban tambahan terbilang cukup tinggi.
Pasalnya, ada sebanyak ratusan siswa yang diketahui juga menerima makanan dari program MBG tersebut. Dengan menu, nasi, telur asin, tahu balado, sayur, dan buah melon.
Sementara itu, pengelola yang diduga berasal dari SPPG Sejahtera Kebondalem belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.(*)
