KETIK, PACITAN – Pacitan diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering pada 2026.
Kondisi ini diperkirakan mulai terasa pada April mendatang seiring adanya peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perubahan pola cuaca.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Sugeng Santoso, mengatakan ada sejumlah komoditas yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering.
Beberapa di antaranya yakni sorgum, jagung, kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang hijau, kacang panjang, hingga ubi jalar.
Selain itu, beberapa jenis sayuran seperti terong dan labu juga dinilai cocok ditanam saat musim kemarau.
"Beberapa wilayah sudah mulai menanam komoditas tersebut dan hasilnya cukup bagus. Itu juga bagian dari upaya kita mensosialisasikan ke masyarakat untuk menyiapkan cadangan pangan di Pacitan," kata Sugeng kepada Ketik.com, Senin, 16 Maret 2026.
Menurutnya, pemilihan komoditas yang tepat menjadi salah satu strategi agar lahan pertanian tetap produktif meski pasokan air mulai terbatas.
Sugeng menambahkan, upaya diversifikasi tanaman tersebut juga menjadi bagian dari strategi memperkuat cadangan pangan daerah, terutama di tengah kondisi global yang menuntut ketersediaan pangan tetap terjaga.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendorong petani untuk memaksimalkan sumber air yang masih tersedia, termasuk dengan membersihkan saluran irigasi agar aliran air tetap lancar.
"Yang bisa kami sarankan ke masyarakat petani mulai membersihkan saluran irigasi yang ada tanaman liar agar aliran air lancar," ujarnya.
Selain itu, DKPP juga menyiapkan sarana dan prasarana alat mesin pertanian untuk membantu petani menghadapi musim kemarau, seperti pompa air dan jaringan perpipaan.
"Semaksimal mungkin apabila ada potensi sumber air yang masih bisa dimanfaatkan, kami juga menyiapkan sarana prasarana Alsintan seperti pompa atau perpipaan yang bisa dimaksimalkan nanti saat tanaman sudah tumbuh tapi air mulai tidak ada," jelasnya.
Ia menyebut pembangunan sumur bor pada 2024 hingga 2025 diharapkan dapat dimanfaatkan saat musim kemarau, khususnya untuk mendukung irigasi lahan pertanian.
"Sejauh ini, sumur bor yang telah dibangun mencapai sekitar 70 hingga 80 titik dan tersebar di sejumlah wilayah di Pacitan," katanya.
Lebih lanjut, pemerintah daerah juga menyiapkan cadangan pangan untuk mengantisipasi kemungkinan jika ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan bahan pangan.
Saat ini cadangan pangan daerah berupa beras tercatat sekitar 19 ton.
Meski demikian, jumlah tersebut diklaim masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai sekitar 100 ton.
"Tapi paling tidak kita punya stok. Kalau memang nanti dibutuhkan dan urgent ada masyarakat yang sampai tidak memiliki stok pangan atau tidak mampu membeli bahan pangan, kita ada cadangan pangan untuk bantuan sosial," katanya.
Pacitan bagian barat disebut menjadi kawasan yang paling rawan terdampak kekeringan.(*)
