Sorgum, Solusi Pangan Tangguh di Tengah Ancaman Kemarau Kering 2026

15 Maret 2026 19:30 15 Mar 2026 19:30

Thumbnail Sorgum, Solusi Pangan Tangguh di Tengah Ancaman Kemarau Kering 2026

Kondisi tanaman jagung milik petani di Brangsong, Kendal, Minggu 15 Maret 2026. Petani di wilayah tersebut mulai mengkhawatirkan ancaman kemarau panjang yang diprediksi BMKG akan terjadi pada April mendatang, dan mulai melirik tanaman sorgum sebagai alternatif yang lebih tahan kekeringan. (Dok: Dian Wisnu/ Ketik.com)

KETIK, KENDAL – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait transisi cuaca yang diprediksi mulai terjadi pada April 2026. Berdasarkan data pemantauan atmosfer, wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau yang lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Fenomena ini memicu kekhawatiran di sektor pertanian, terutama bagi komoditas yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap ketersediaan air.

​Di tengah ancaman kekeringan tersebut, tanaman sorgum muncul sebagai kandidat kuat pangan alternatif masa depan. Tanaman ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

​Menanggapi prediksi cuaca tersebut, para petani di wilayah Brangsong, Kabupaten Kendal, mulai mempertimbangkan potensi tanaman alternatif. Yanto, seorang petani jagung setempat, mengakui bahwa meski terbiasa menanam jagung, informasi mengenai ketangguhan sorgum sudah mulai terdengar di kalangan kelompok tani.

​"Sehari-hari saya bertani dan biasa menanam jagung. Kami memang belum begitu paham soal sorgum, tetapi mendengar kabar bahwa sorgum itu kuat dan tahan cuaca panas," ujar Yanto saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu 15 Maret 2026.

​Yanto menambahkan bahwa jika ancaman kekeringan benar-benar terjadi, para petani sangat terbuka untuk beralih menanam komoditas yang lebih resilien (tangguh).

​"Jika memang ada alternatif pangan seperti sorgum karena ancaman kekeringan, tanaman tersebut bisa menjadi pilihan. Namun, kami juga membutuhkan kepastian serta dukungan pemerintah dalam hal hilirisasi atau pemasaran hasil panennya," tegas Yanto.

​Sorgum (Sorghum bicolor) bukan sekadar tanaman penghias ladang. Secara teknis, tanaman ini memiliki sistem perakaran yang sangat dalam serta kemampuan untuk menghentikan pertumbuhan sementara saat terjadi kekeringan (dormansi), lalu tumbuh kembali setelah mendapatkan air.

​Namun, harapan petani seperti Yanto menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan. Meskipun sorgum memiliki potensi besar secara agronomis, tantangan utamanya terletak pada ekosistem pasar. Tanpa rantai pasok yang jelas, industri pengolahan (hilirisasi), dan kepastian harga, petani akan ragu untuk berpindah haluan.

​Diperlukan langkah nyata dari pemerintah untuk menjembatani hasil panen sorgum ke industri pangan, baik sebagai substitusi tepung gandum maupun bahan baku industri lainnya.

​Dengan dukungan riset BMKG mengenai prakiraan cuaca kering mendatang, momentum April 2026 harus menjadi titik balik bagi kedaulatan pangan nasional. Menjadikan sorgum sebagai komoditas unggulan baru bukan hanya upaya bertahan hidup di musim kemarau, melainkan juga investasi bagi kesehatan dan ekonomi jangka panjang. (*)

Tombol Google News

Tags:

ketahanan pangan  sorgum pangan alternatif Kemarau Cuaca Tanaman Komoditas Brangsong Kabupaten Kendal BMKG