KETIK, JEMBER – Kehilangan sosok ayah menjadi titik balik memburuknya kondisi kejiwaan seorang remaja berinisial AR (16), warga Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember. Peristiwa duka tersebut memicu gangguan emosional yang berujung pada perilaku agresif.
Kondisi psikologis remaja itu dilaporkan sempat stabil setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang. Perbaikan tersebut terlihat dalam beberapa hari setelah ia kembali ke rumah.
Kepala UPT Liposos Dinas Sosial Jember, Roni Effendi, menjelaskan bahwa kedekatan emosional antara AR dan ayahnya sangat kuat sehingga berdampak besar terhadap kondisi mentalnya.
Ia menyampaikan bahwa AR menjadi emosional, mudah marah, dan bahkan sempat melakukan tindakan agresif seperti mencekik ibunya setelah mengingat ayahnya yang telah meninggal dunia.
"Keluarga kemudian menghadapi tekanan psikologis dan rasa takut akibat perubahan perilaku tersebut. Kekhawatiran akan potensi tindakan berbahaya mendorong keluarga mengambil langkah pengamanan yakni dengan cara dipasung," papar Roni, saat dikonfirmasi Jumat, 3 April 2026.
Langkah pemasungan akhirnya dilakukan oleh keluarga sebagai bentuk perlindungan, meskipun tindakan tersebut bukan solusi yang tepat dalam penanganan gangguan jiwa.
Roni menilai bahwa kondisi ini menunjukkan pentingnya pemahaman keluarga terhadap penanganan gangguan psikotik, terutama dalam situasi emosional yang berat seperti kehilangan anggota keluarga.
"Di sini peran keluarga sangat krusial dalam proses pemulihan pasien, termasuk memberikan dukungan emosional dan memastikan keberlanjutan pengobatan," paparnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aspek psikologis, terutama trauma kehilangan, dapat menjadi pemicu serius bagi pasien dengan riwayat gangguan jiwa.
Kasus ini tidak hanya menyangkut faktor keluarga, tetapi juga membuka persoalan lebih luas terkait sistem penanganan dan minimnya pemahaman masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa.
