KETIK, HALMAHERA SELATAN – Wakil Bupati Halmahera Selatan, Helmi Umar Muchsin, melontarkan kritik terhadap kondisi gerakan intelektual dan budaya generasi muda dalam Orasi Kebudayaan pada acara Pengukuhan Ikatan Keluarga Besar Masatawa di Desa Kampung Makian, Bacan Selatan, Sabtu 14 Februari 2026.
Di hadapan ratusan undangn, Helmi menegaskan bahwa banyak komunitas dan organisasi hari ini terjebak pada rutinitas tanpa makna. Ia menilai, aktivitas yang terlihat ramai tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas dan daya dorong perubahan.
“Kita ini kadang banyak dalam sisi kuantitas, tapi lemah dalam kualitas,” kata Helmi.
Menurutnya, ruang-ruang sekretariat yang seharusnya menjadi pusat lahirnya gagasan justru berubah menjadi tempat stagnasi. Diskusi, kopi, dan rokok terus berulang, namun tanpa arah perjuangan yang jelas.
“Kita seperti terjebak dalam insomnia gagasan. Gagasan-gagasan itu mati di dalam ruang sekretariat,” ujarnya.
Helmi menyebut, banyak kader dan aktivis muda terjebak dalam rutinitas simbolik tanpa ruh perjuangan. Aktivitas yang dilakukan hanya bersifat formalitas, tanpa nilai ideologis dan gerakan nyata.
“Adik-adik di dalam cuma rokok, kopi, diskusi, tapi tidak ada marwah. Ruhnya tidak keluar,” tegasnya.
Lebih jauh, Helmi menyoroti lemahnya respons generasi muda terhadap perubahan global, khususnya disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Di saat dunia bergerak cepat, menurutnya, sebagian besar komunitas justru larut dalam kenyamanan internal.
“Sementara di luar, distrubsi AI terjadi, tapi tidak ada perhatiannya sama sekali,” katanya.
Ia juga mengkritik budaya diskusi yang tidak berujung pada tindakan nyata. Menurut Helmi, banyak forum hanya menghasilkan wacana kosong tanpa keberanian untuk mengeksekusi gagasan.
“Lebih hebat lagi, kita terjebak dalam diskusi-diskusi kosong, tidak ada aksi,” ucapnya.
Helmi menilai kondisi tersebut sebagai tanda kemunduran kolektif yang tidak boleh dibiarkan. Jika tidak segera dibenahi, Halmahera Selatan berisiko kehilangan generasi pemimpin yang visioner dan adaptif.
“Kita mengalami kemunduran,” tegas Helmi.
Dalam orasinya, Helmi mengajak seluruh elemen, khususnya generasi muda Masatawa, untuk melakukan perubahan cara berpikir secara mendasar. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran baru yang lebih progresif dan berorientasi pada karya.
“Ini menjadi atensi kita bersama untuk mengubah mindset itu,” pungkasnya.
