KETIK, MALANG – Lapak penjual makanan dan minuman menjadi hal krusial bagi para pelancong yang menikmati derasnya aliran Air Terjun Coban Srikandi di Desa Benjor, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Di obyek wisata tersebut, hanya terdapat satu lapak sederhana yang menyediakan pelepas dahaga dan lapar bagi para pelancong. Lapak berbentuk meja kayu itu milik Ghuna. Selama tiga bulan terakhir, ia menjadi penopang kebutuhan makan dan minum wisatawan di kawasan Coban Srikandi.
Setiap hari, sekitar pukul 07.00 WIB, Ghuna turun ke area air terjun untuk membuka lapaknya. Rutinitas tersebut nyaris tak pernah berubah sejak ia mulai berjualan di lokasi tersebut.
Meski dagangannya tidak selalu habis, Ghuna mengaku berusaha berjualan setiap hari. Ia hanya menutup lapak jika memiliki keperluan penting dan telah berkoordinasi dengan pengelola di atas.
“Setiap hari diusahakan jual di sini, kalau tidak ada kepentingan atau keperluan. Kalau ada keperluan, kita izin di atas,” ungkap Ghuna.
Satu-satunya penjual makanan dan minuman di Coban Srikandi. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Rute menuju Coban Srikandi tergolong cukup menantang. Selain jalur naik turun, pelancong juga harus menyeberangi sungai sebanyak tiga kali untuk mencapai lokasi air terjun.
Kondisi tersebut kerap menyulitkan wisatawan, terutama saat musim hujan ketika debit air sungai meningkat dan menyulitkan pengunjung untuk kembali ke atas.
Dalam situasi tersebut, Ghuna tidak hanya berperan sebagai penjual. Ia juga membantu pelancong menyeberang sungai, sekaligus menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung di kawasan bawah air terjun.
Ghuna menjelaskan, ia turun ke lokasi air terjun sejak pengunjung pertama datang dan kembali naik bersama pengunjung terakhir sekitar pukul 15.00 WIB jika cuaca dalam kondisi baik.
Namun, saat musim hujan, pengunjung biasanya diminta segera naik ketika hujan turun sekitar pukul 13.00 WIB untuk mengantisipasi potensi banjir.
“Saya ikut turun jam 7-an dan pulang bareng pengunjung terakhir, maksimal jam 15.00 kalau cuaca bagus. Tapi kalau hujan, pukul 13.00, kami ajak naik karena takut banjir, soalnya harus menyeberang sungai tiga kali,” tutur Ghuna.
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu, petugas di atas juga turun untuk membantu wisatawan menyeberang sungai. Ghuna turut terlibat membantu pengunjung sembari tetap berjualan dan berjaga di kawasan bawah.
“Saya jualan sambil ikut menyeberangkan pengunjung, sambil bertugas dan jaga bawah,” imbuhnya.
Ghuna sendiri berharap jumlah pengunjung Coban Srikandi ke depan semakin meningkat, sehingga aktivitas wisata di kawasan tersebut semakin ramai dan berdampak pada dagangannya.
“Harapannya ke depan pengunjung semakin ramai dan banyak yang beli di sini,” pungkasnya .(*)
