KETIK, MALANG – Warga Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, dikejutkan dengan fenomena jalan longsor cukup ekstrem sedalam 12 meter pada Senin, 2 Maret 2026. Tanah longsor di jalan itu berbentuk menyerupai goa.
Kerusakan infrastruktur yang terjadi di Desa Jombok ini menciptakan lubang raksasa yang sekilas menyerupai mulut goa, memutus akses utama antar dusun.
Peristiwa tersebut tepatnya terjadi di kawasan Ganten, Desa Jombok, sekitar pukul 10.15 WIB. Jalan yang amblas merupakan jalur krusial yang menghubungkan Dusun Ngembul dan Dusun Bulurejo.
Kronologi Kejadian
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan bahwa sebelum terjadi amblas total, warga sempat melihat adanya tanda-tanda kerusakan berupa retakan di permukaan jalan dan jembatan penghubung.
"Berdasarkan informasi di lapangan, awalnya muncul retakan pada jalan dan jembatan. Tak lama kemudian, sekitar pukul 10.15 WIB, jalan tersebut amblas dengan dimensi yang cukup besar," ujar Sadono mengonfirmasi laporan Pusdalops PB BPBD Kabupaten Malang.
Data dari lokasi menunjukkan skala kerusakan yang cukup masif. Di antaranya lebar amblas: lebih kurang 5 meter, panjang jalan yang tergerus: lebih kurang 20 meter dan kedalaman: mencapai sekitar 12 meter
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Namun, akses transportasi warga terganggu parah. Akibat kedalaman lubang yang mencapai 12 meter, kendaraan roda empat (R4) dipastikan tidak dapat melintas.
"Saat ini hanya kendaraan roda dua (R2) yang bisa lewat, itu pun harus dilakukan secara bergantian dan ekstra hati-hati," tambahnya.
Pihak BPBD menaksir kerugian materiil akibat kerusakan infrastruktur ini mencapai Rp 80.000.000. Selain jalan, pondasi jembatan di sekitar lokasi juga terancam akibat pergerakan tanah tersebut.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Malang bersama Forkopimcam Ngantang, PMI, dan perangkat desa setempat telah berada di lokasi untuk melakukan assessment atau kaji cepat.
"Sebagai langkah awal untuk mencegah kecelakaan, kami telah memasang Garis pembatas jalan sementara. Rambu-rambu keselamatan di titik retakan," ucap Sadono Irawan.
Pihaknya mengimbau warga untuk tetap waspada, terutama saat melintasi area tersebut di malam hari atau saat hujan deras, mengingat kondisi tanah yang masih berpotensi labil. (*)
