KETIK, JEMBER – Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Jember dalam beberapa pekan terakhir mendapat perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemprov menilai penanganan bencana tidak cukup dilakukan di wilayah hilir, melainkan harus dimulai dari kawasan hulu yang menjadi sumber persoalan.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan bahwa karakter geografis Jember yang didominasi perbukitan dan pegunungan berperan besar terhadap pola aliran air saat curah hujan tinggi. Karena itu, ia mendorong pendekatan terpadu yang mencakup aspek ekologi, tata ruang, hingga penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Emil menyampaikan hal tersebut usai menjadi pemateri dalam Kajian Ramadan 1447 Hijriah yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu petang, 21 Februari 2026.
Ia menjelaskan, intensitas hujan yang tinggi di kawasan hulu memicu peningkatan debit air secara signifikan. Di sisi lain, daya resap tanah di sejumlah titik menurun akibat berkurangnya vegetasi. Kondisi itu membuat air hujan tidak tertahan secara optimal dan langsung mengalir ke daerah hilir, sehingga menyebabkan sungai meluap dan permukiman warga tergenang.
Menurut Emil, kondisi tersebut menjadi peringatan penting agar seluruh pihak menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan.
“Kita tahu kalau daerah yang konturnya pegunungan itu harus kita jaga. Ada teknologi namanya aeroseeding,” ujar Emil saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember.
Ia menerangkan, aeroseeding merupakan metode penyebaran benih tanaman dari udara untuk mempercepat penghijauan di wilayah perbukitan yang sulit dijangkau. Teknologi ini memungkinkan benih tersebar lebih merata sehingga diharapkan mampu membentuk tutupan lahan yang kuat dan memperbaiki struktur tanah dalam jangka panjang.
Meski demikian, Emil menegaskan bahwa penggunaan aeroseeding bukan satu-satunya langkah. Ia menilai persoalan lingkungan di Jawa Timur memiliki dimensi yang kompleks dan membutuhkan solusi menyeluruh.
“Itu hanya satu saja dari berbagai permasalahan dan solusi terhadap permasalahan ekologi di Jawa Timur. Kata kuncinya sederhana, ekoteologi, kesadaran masyarakat juga,” papar mantan Bupati Trenggalek itu.
Emil menekankan pentingnya kesadaran kolektif warga dalam menjaga hasil penghijauan. Ia mengingatkan bahwa upaya penanaman akan gagal jika masyarakat tidak ikut merawatnya.
“Kita sebar benihnya, terus kalau benihnya kemudian dicabut oleh masyarakat sendiri, pohon yang masih balita, masih kecil-kecil, dicabut, tidak akan pernah besar,” tegasnya.
Selain memperkuat penghijauan, Pemprov Jatim juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan. Emil menilai pelestarian hutan tidak boleh mengorbankan kebutuhan ekonomi warga sekitar.
“Jangan sampai kita suruh hutan kita jaga, tapi masyarakat desa hutan sengsara. Tidak kita pikirkan penghidupannya. Jadi inilah yang kita coba, solusi yang holistik dan lengkap,” ucap politikus Partai Demokrat ini.
Pemprov juga memperkuat penataan tata ruang berbasis perencanaan wilayah yang jelas, termasuk sinkronisasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan kebijakan kehutanan. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pemanfaatan lahan tetap sesuai fungsi dan tidak merusak daerah aliran sungai (DAS).
Emil mencontohkan sejumlah kawasan strategis di Jawa Timur yang membutuhkan perhatian serius, seperti Argopuro, Ijen, wilayah perbatasan Jember–Banyuwangi di Sidomulyo yang dikenal sebagai sentra kopi, hingga kawasan lingkar Bromo, Arjuno, dan Wilis.
Ia menjelaskan bahwa sebagian kawasan hutan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal di Kementerian Kehutanan, termasuk pengaturan jenis tanaman yang boleh dibudidayakan.
Emil juga menyinggung polemik terkait penanaman jenis tertentu, seperti pinus, yang menurutnya perlu dikaji secara matang melalui pendekatan planologi dan pertimbangan ilmiah.
“Tutupan lahan, mana yang boleh diberdayakan untuk swasembada pangan, untuk jenis tanaman lain, itu diatur oleh para pakar pertanian dan kehutanan,” jelasnya.
Pemprov Jawa Timur berharap kombinasi antara teknologi aeroseeding, penguatan tata ruang, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa hutan dapat menekan risiko banjir secara bertahap di wilayah seperti Jember.
Emil kembali menegaskan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya dengan normalisasi sungai di wilayah hilir.
"Tetapi harus dimulai dari menjaga ekosistem di hulu agar keseimbangan alam tetap terpelihara dan masyarakat terlindungi dari bencana berulang," pungkasnya. (*)
