KETIK, BATU – Kota Batu akan menyuplai 30 hingga 50 ton sampah per hari untuk mendukung operasional pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) Malang Raya.
Hal itu merupakan peran Kota Batu sebagai supporting system dalam proyek PSEL yang berada di TPA Supit Urang Kota Malang tersebut.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni, produksi sampah di Kota Batu mencapai 122,138 ton per hari.
Dari jumlah itu, 106,138 ton telah terkelola, sekitar 16 ton belum terkelola, dan sebanyak 37 ton yang masuk ke TPA Tlekung setiap hari masih diproses melalui insinerator.
"Sampah tersebut berasal dari 21 ruas jalan protokol, objek vital strategis, serta kawasan usaha seperti hotel, restoran, dan kafe," ujarnya, Jumat 29 Agustus 2025.
Dian menyebut kebutuhan sampah untuk mengoperasikan PSEL mencapai minimal 1.000 ton per hari. Dari Kota Malang baru terkumpul sekitar 700 ton, sehingga kekurangan pasokan dipenuhi Kabupaten Malang dan Kota Batu.
"Karena Kota Batu menerapkan sistem pengolahan sampah di kawasan hulu yang lebih optimal, kami hanya bisa mensuplai kurang lebih 30–50 ton per hari untuk PSEL ini,” tambahnya.
Menurut Dian, penggunaan insinerator di TPA Tlekung akan dikurangi secara bertahap seiring beroperasinya PSEL. Sehingga bisa menghemat biaya pengolahan sampah di TPA Tlekung Kota Batu.
“Di kemudian hari insinerator yang digunakan di TPA Tlekung akan kami kurangi penggunaannya. Karena memang biaya produksi dan proses operasionalnya mahal juga,” pungkasnya.(*)