KETIK, TEGAL – Perbaikan tanggul Sungai Ketiwon yang sempat jebol beberapa hari lalu di Kelurahan Panggung Kota Tegal diharapkan selesai dalam waktu dua sampai tiga hari.
Hal tersebut disampaikan Sub Koordinator Pemeliharaan Sumber Daya Air (SDA) Kota Tegal, Wahyu, saat dihubungi terkait penanganan darurat pada lokasi tersebut.
"Hari ini sudah dilakukan pemasangan pancang bambu. Pekerjaan memerlukan waktu lebih lama karena memakai tiga susun, namun panjang bagian yang diperbaiki sekitar 30 sampai 50 meter sesuai pengukuran Balai," ujar Wahyu.
Material perbaikan berupa sandbag dan geotek disediakan oleh Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pemali Comal, sedangkan pancang bambu berasal dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Tegal dengan anggaran dari dana rutin dinas untuk keadaan darurat.
Personel yang terlibat terdiri dari 50 pekerja DPUPR dan 10 pekerja Balai Pemali Comal, dengan total sekitar 60 orang.
Plt Kepala DPUPR Kota Tegal, Heru Prasetya, yang dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp pada Kamis, 12 Februari 2026, menyatakan pihaknya akan berkoordinasi erat dengan PSDA Provinsi untuk penanganan darurat dan langkah permanen.
"Yang jelas kita akan berkoordinasi dengan PSDA Propinsi melakukan upaya semaksimal yang kita bisa dalam rangka penanganan darurat. Selanjutnya kita akan mengintensifkan pemeriksaan seluruh tanggul, terutama di aliran Sungai Ketiwon yang berada di wilayah Kota Tegal, bersama PSDA di titik-titik lain," jelas Heru.
Menurutnya, kerusakan terjadi karena bagian beronjong batu tidak tersambung akibat proyek sebelumnya belum tuntas.
Langkah permanen yang akan diambil adalah menyambungkan bagian beronjong batu yang rusak dan memberikan perlindungan serupa pada Sungai Ketiwon dan Sungai Kaligangsa yang memiliki tekanan arus air cukup besar.
"Kita akan berkoordinasi dengan PSDA Pemali Comal karena sesuai tugas dan wewenang, pengelolaan sungai berada di bawah kewenangan PSDA, sedangkan DPUPR berperan sebagai penunjang dengan tenaga yang bisa kita berikan," terang Heru.
"Harapannya seluruh daerah aliran sungai di Kota Tegal, terutama Ketiwon, bisa dinormalisasi dan terlindungi agar tidak terjadi lagi kebocoran atau keruntuhan tanggul," tambahnya.
Wahyu menambahkan bahwa tanggul yang jebol tidak termasuk dalam daftar tanggul kritis, namun rusak karena berada pada tikungan sisi luar yang terkena hantaman arus banjir besar.
Selain itu, terdapat beberapa tanggul dengan struktur siku yang perlu diperhatikan di wilayah Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal di Pulau Rote sampai Timor Timur karena kondisi tipis dan memerlukan peninggian.(*)
