KETIK, JAKARTA – Diplomat senior sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Menteri Luar Negeri Sugiono. Dino menilai diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Sugiono cenderung tertutup, tidak komunikatif, serta menjauh dari para pemangku kepentingan hubungan internasional di dalam negeri.
Dalam pesannya, Dino menegaskan bahwa Menteri Luar Negeri semestinya bersikap lebih terbuka dan aktif melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan (ormas), akademisi, dan komunitas hubungan internasional, baik yang bersikap mendukung maupun kritis.
“Kepercayaan, rasa hormat, dan dukungan dari para pemangku kepentingan bukan sesuatu yang otomatis. Itu harus diperoleh,” tegas Dino, dalam pesan yang ia unggah di media sosialnya, Selasa, 23 Desember 2025.
Menurutnya, prinsip pemerintahan yang melayani dan dekat dengan rakyat seharusnya juga tercermin dalam pengelolaan diplomasi. Namun, realitas yang dirasakan komunitas hubungan internasional justru sebaliknya.
“Saat ini kami sebagai konstituen hubungan internasional merasa Menteri Luar Negeri sangat jauh dari kami. Tidak komunikatif, tidak responsif, dan tidak mudah diakses,” ujar Dino.
Undangan Dialog Tak Pernah Direspons
Dino mengungkapkan, berbagai undangan dialog yang dilayangkan oleh ormas dan komunitas hubungan internasional kepada Menlu Sugiono yang juga merangkap sebagai Sekjen Partai Gerindra itu, tidak pernah mendapatkan tanggapan. Kondisi ini dinilainya berbahaya bagi keberlanjutan diplomasi Indonesia.
Ia mengingatkan, tanpa dukungan para pemangku kepentingan, posisi Menlu akan rapuh ketika menghadapi persoalan besar di kemudian hari.
“Kalau suatu saat ada masalah, tidak akan ada yang membela Anda,” katanya.
Padahal, Dino menegaskan, kritik dan masukan dari masyarakat justru bertujuan memperkuat diplomasi Indonesia, bukan melemahkannya. Bahkan, ia menyatakan keinginannya agar Menlu Sugiono mendapatkan penilaian yang baik di masa depan.
“Kami ingin memberikan rapor yang bagus kepada Menlu pada waktunya. Tapi itu tidak akan terjadi secara otomatis,” ujarnya.
Diplomasi Tidak Bisa Elitis
Dino menilai terdapat kontradiksi serius dalam praktik diplomasi saat ini. Di satu sisi, Menlu Sugiono di forum internasional kerap menyerukan pentingnya kerja sama global. Namun di sisi lain, di dalam negeri justru dinilai enggan membuka ruang kolaborasi.
“Jangan sampai di luar negeri kita bicara soal kerja sama, tetapi di dalam negeri sangat sulit diajak bekerja sama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa diplomasi modern tidak boleh bersifat elitis dan top-down semata. Inisiatif diplomasi, menurut Dino, juga bisa datang dari bawah—dari ormas, masyarakat sipil, dan akar rumput.
“Dalam dunia diplomasi, inisiatif tidak selalu datang dari pemerintah. Gotong royong antara negara dan masyarakat sipil adalah resep sukses politik luar negeri,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia diplomasi, Dino menyebut sinergi antara pemerintah dan komunitas hubungan internasional sebagai fondasi utama kekuatan diplomasi Indonesia di masa lalu.
Komunikasi Terblokir, Kritik Disampaikan via Media Sosial
Dino juga menyoroti tersumbatnya jalur komunikasi dengan Menlu Sugiono. Ia mengaku terpaksa menyampaikan kritik melalui media sosial karena upaya komunikasi langsung tidak membuahkan hasil selama berbulan-bulan.
“Saya mohon maaf menyampaikan pesan ini lewat media sosial, tapi saya tidak punya pilihan lain. Semua jalur komunikasi efektif terblokir,” ujarnya.
Menurut Dino, situasi tersebut tidak sehat bagi tata kelola kebijakan luar negeri yang seharusnya terbuka terhadap dialog dan evaluasi.
Ia mengingatkan bahwa jabatan Menteri Luar Negeri merupakan posisi strategis yang akan dicatat dalam sejarah bangsa.
“Jabatan ini hanya memberi satu kesempatan dalam sejarah,” tegas Dino.
Dino menyatakan, jika Menlu Sugiono bersedia mengubah pendekatan—lebih banyak memimpin langsung Kementerian Luar Negeri, menjelaskan arah politik luar negeri kepada publik, serta merangkul ormas hukum dan hubungan internasional—maka diplomasi Indonesia masih berpeluang bangkit.
“Saya yakin Menlu Sugiono bisa menjadi menteri luar negeri yang cemerlang,” ujarnya.
Namun, jika kritik tersebut diabaikan, Dino memperingatkan konsekuensi serius: meredupnya peran Kementerian Luar Negeri dan menurunnya posisi diplomasi Indonesia di mata dunia.
“Jika tidak ada perubahan, diplomasi Indonesia akan merosot, dan sejarah akan mencatatnya,” pungkas Dino. (*)
