KETIK, JAKARTA – Dampak bencana banjir dan tanah longsor terus berlanjut. Saat ini, stok air minum di Aceh kian menipis. Hal ini, diungkapkan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Aceh, Aulianda Wafisah.
"Pasokan kaporit dan penjernih air menipis. Saat ini, masyarakat diimbau untuk menampung air minum," ucap Aulianda Wafisah, dalam zoom Respons Darurat Sumatera, yang diadakan Yayasan LBH Indonesia, Minggu, 30 November 2025.
"Jika kaporit dan penjernih ini habis, air yang ada tidak layak konsumsi," sambungnya.
Menurut Aulia, sapaan karib Aulianda Wafisah, menipisnya stok air bukan satu-satunya masalah yang harus dihadapi masyarakat Aceh pascabencana. Saat ini, aliran listrik pun sering padam.
"Pemadaman listrik kerap terjadi. Tak cuma di kota dan kabupaten yang terdampak, tapi juga di wilayah-wilayah lain," sambungnya.
Selain itu, Aulia menyebut, yang juga menjadi masalah saat ini adalah ketersediaan bahan makanan. Terbatasnya stok makanan membuat harga-harga melambung tinggi, bahkan sampai tiga kali lipat.
"Biasanya 30 butir telur ayam harganya Rp50 ribu. Saat ini, harganya bisa mencapai Rp150 ribu. Jika uangnya ada, barangnya belum tentu ada," tuturnya.
Bencana banjir dan tanah longsor di Aceh sejauh ini juga memakan korban jiwa sebanyak 47 orang. Sementara, 51 orang masih belum ditemukan. Selain itu, lebih dari 48 ribu kepala keluarga harus mengungsi.
Menurut Aulia, ada beberapa hal yang menyebabkan bencana ini sedemikian dahsyatnya. Ia menyebut, curah hujan yang tinggi tak dibarengi dengan daya serap air yang cukup.
"Selain itu, soal drainase juga menjadi permasalahan," ia menandaskan.
