KETIK, MALANG – Sukses yang diraih Aisyah Al-Rumy dengan menjadi juara 2 dalam ajang Dubai International Holy Quran Award 2026 tak datang secara instan. Di balik prestasi internasional itu, ada proses panjang yang telah dimulai sejak ia masih balita.
Wakil Kepala SD Tahfidz Al-Qur’an Daarul Ukhuwwah Malang, Milda Maulida Arum, menyebut kecintaan Aisyah terhadap Al-Qur’an tumbuh sejak usia sangat dini. Peran kedua orang tuanya, Muhammad Qowiyul Huda dan Maisyaroh Cholila, menjadi fondasi utama perjalanan tersebut.
“Sejak kecil, orang tuanya memang fokus mendampingi anak-anak. Mereka sudah berkomitmen untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak-anaknya,” jelas Milda.
Pendampingan itu bukan sekadar formalitas. Dalam berbagai aktivitas, kedua orang tuanya selalu melibatkan anak-anak. Bukan hanya Aisyah, kakaknya yang kini duduk di kelas 6 SD pun senantiasa dibawa dalam kegiatan orang tua.
“Kalau ke mana-mana, anak-anak selalu dibawa. Bukan hanya Mbak Aisyah, kakaknya juga selalu ikut. Ini bagian dari pendampingan orang tua,” imbuhnya.
Konsistensi keluarga inilah yang dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kemampuan hafalan, kualitas suara, serta mental tampil Aisyah di berbagai ajang, baik tingkat nasional maupun internasional.
Saat pertama kali masuk SD Tahfidz Al-Qur’an Daarul Ukhuwwah, kemampuan Aisyah bahkan melampaui persyaratan. Jika syarat masuk hanya hafal Juz 30, Aisyah sudah mengantongi hafalan lima juz.
“Sejak balita, Mbak Aisyah ini memang disekolahkan di sekolah Al-Qur’an, lalu lanjut ke sini,” kata Milda.
Seiring bertambahnya usia, hafalannya terus meningkat. Kini, di usia 10 tahun, Aisyah telah menghafal 15 juz. Ia juga memiliki target hafalan harian sebanyak satu halaman.
Nama Aisyah semakin dikenal publik pada 2023 ketika ia terpilih mengikuti ajang Hafiz Indonesia yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta nasional.
Menurut Milda, saat itu ada tiga siswa dari sekolahnya yang mengikuti seleksi. Dua di antaranya, termasuk Aisyah, berhasil lolos hingga tahap Jakarta.
Meski belum berhasil meraih gelar juara, pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam pembentukan mental dan kualitas bacaannya.
“Dari Hafiz Indonesia, Mbak Aisyah semakin terbentuk. Nadanya semakin bagus. Selain itu, kepercayaan dirinya juga semakin baik,” tutur Milda.
Di balik prestasi gemilangnya, Aisyah tetaplah anak seusianya yang gemar bermain. Namun, ada satu hal yang membedakannya dari kebanyakan anak lain.
“Kalau ke Al-Qur’an, dia benar-benar menikmati. Kadang anak-anak kalau baca Al-Qur’an cepat-cepat. Tapi kalau Aisyah ini memang sudah benar-benar dinikmati banget. Seperti sudah merasuk sekali,” tandas Milda. (*)
