Dari Korban Perundungan ke Atlet Muay Thai, Priyo Efrat Manurung Kejar Mimpi hingga Tingkat Provinsi

20 Februari 2026 10:40 20 Feb 2026 10:40

Thumbnail Dari Korban Perundungan ke Atlet Muay Thai, Priyo Efrat Manurung Kejar Mimpi hingga Tingkat Provinsi

Priyo meraih juara 3 pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) IX Jawa Timur yang digelar di Malang Raya. Pada Sabtu, 5 Juli 2025. (Foto : Priyo)

KETIK, SURABAYA – Tidak semua atlet lahir dari fasilitas lengkap atau perjalanan hidup yang mulus. Priyo Efrat Manurung membuktikan bahwa pengalaman pahit masa kecil justru dapat menjadi fondasi mental untuk meraih prestasi. Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur asal Kabupaten Kediri itu kini mulai diperhitungkan sebagai atlet Muay Thai di tingkat provinsi.

Priyo mengenal kerasnya kehidupan sejak usia dini. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, ia pernah mengalami perundungan saat duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.

Kala itu, ia sempat dikucilkan oleh teman-temannya akibat konflik dengan seorang ketua kelompok di sekolah. Rasa kesepian membuatnya berpikir untuk memiliki kemampuan membela diri.

“Waktu itu saya berpikir, kalaupun tidak punya teman, setidaknya saya punya kemampuan untuk membela diri kalau terjadi apa-apa,” ujarnya.

Keinginan tersebut menjadi awal ketertarikannya pada dunia bela diri, meski saat itu ia belum membayangkan akan menjadi atlet.

Awal Mengenal Muay Thai

Minatnya terhadap olahraga tarung dipengaruhi sang ayah yang gemar menonton tinju. Ketika duduk di kelas 1 SMA, Priyo menemukan video pertandingan Muay Thai di YouTube yang menampilkan legenda Thailand, Buakaw. Dari situlah ia mulai mengenal olahraga yang dikenal sebagai seni delapan anggota tubuh.

 

Foto Priyo meraih juara 1 pada ajang Liga 1 Muaythai Jawa Timur yang digelar di Surabaya. Pada Minggu, 25 Januari 2026.Priyo meraih juara 1 pada ajang Liga 1 Muaythai Jawa Timur yang digelar di Surabaya. Pada Minggu, 25 Januari 2026.

 

“Awalnya bahkan belum tahu namanya Muay Thai. Tapi setelah melihat pertandingannya, saya langsung tertarik karena semua teknik bisa dipakai—tangan, kaki, siku, dan lutut. Rasanya lebih komplet,” katanya.

Sejak saat itu, ia memutuskan menekuni Muay Thai secara serius, olahraga kontak penuh yang membutuhkan kekuatan fisik dan ketahanan mental.

Ditempa di Kamp Latihan Sederhana

Priyo kemudian bergabung dengan Kamp Satria Putih di Kabupaten Blitar di bawah asuhan pelatih Hadi Liana. Meski fasilitasnya sederhana dan jauh dari pusat kota, kamp tersebut telah melahirkan sejumlah atlet berprestasi di Jawa Timur hingga tingkat nasional.

Ia mengakui sempat merasa takut bertanding pada awal kariernya. Namun, dukungan dan motivasi dari pelatih membuatnya berani naik ring.

“Dulu saya bahkan takut untuk bertanding. Pelatih yang terus memberi motivasi sampai akhirnya saya berani naik ring dan bisa bersaing,” tuturnya.

Perjalanan awalnya tidak selalu mulus. Ia harus melewati sejumlah kekalahan sebelum mampu menunjukkan performa terbaiknya. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk mental bertanding yang lebih kuat.

Tantangan Mental dan Dukungan Keluarga

Menurut Priyo, tantangan terbesar dalam Muay Thai bukanlah lawan di atas ring, melainkan pengendalian diri.

“Lawan terbesar itu pikiran. Kalau pikiran sudah kalah duluan, tubuh ikut kalah,” katanya.

Ia belajar mengelola emosi sebelum pertandingan, termasuk dengan mendengarkan musik dan menghindari menonton laga sebelum gilirannya bertanding.

 

Foto Priyo meraih juara 1 pada kejuaraan Muaythai tingkat provinsi yang digelar di Kabupaten Tuban. Pada Minggu, 30 November 2025.Priyo meraih juara 1 pada kejuaraan Muaythai tingkat provinsi yang digelar di Kabupaten Tuban. Pada Minggu, 30 November 2025.

 

Keputusannya menjadi atlet sempat menimbulkan kekhawatiran dari keluarga, terutama sang ibu. Namun, dukungan penuh akhirnya diberikan setelah melihat keseriusan dan perkembangan prestasinya.

“Saat teman-teman nongkrong, saya latihan. Itu pengorbanan yang harus dijalani,” ujarnya.

Menatap Target Internasional

Meski baru kurang dari tiga tahun menekuni Muay Thai secara serius, Priyo telah bersaing di tingkat provinsi melawan atlet-atlet terbaik Jawa Timur. Ia menjadikan setiap kekalahan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.

“Saya tidak mau cuma biasa-biasa saja. Kalau sudah suka sesuatu, saya ingin jadi salah satu yang terbaik,” katanya.

Ke depan, Priyo menargetkan dapat bertanding di ajang internasional seperti SEA Games serta bergabung dengan promotor internasional.

Perjalanan Priyo Efrat Manurung menunjukkan bahwa mental tangguh dan ketekunan dapat mengubah pengalaman pahit menjadi pijakan menuju prestasi. Dari pengalaman perundungan di masa kecil, kini ia berdiri di atas ring dengan ambisi menembus panggung dunia. (*)

Tombol Google News

Tags:

Priyo Efrat Manurung Muay Thai Atlet Muay Thai Jawa Timur Atlet Kediri Kisah Inspiratif Atlet Korban Bullying Bangkit dari Perundungan Combat Sport Indonesia Muay Thai Indonesia Kejuaraan Muay Thai Atlet Muda Berprestasi Porprov jawa timur Dunia Olahraga UPN Veteran