KETIK, SURABAYA – Di tengah menjamurnya kafe bergaya industrial dan sajian western yang mendominasi, sebuah mini kafe di Jalan Manukan Tama Surabaya justru memilih kembali ke akar budaya.
Jaje Tampah menghadirkan jajanan tradisional Nusantara dalam balutan konsep modern sejak resmi dibuka pada 10 Januari 2026. Perpaduan cita rasa autentik dan penyajian kekinian membuat tempat ini cepat mencuri perhatian pecinta kuliner.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung makan, akses menuju lokasi terbilang mudah. Dari Terminal Manukan, pengunjung cukup mengarah lurus hingga menemukan SPBU, kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 100 meter ke depan. Tempat ini berada di sisi kanan jalan.
Mengusung bahan asli Bali sebagai identitas, kafe ini menawarkan menu seperti singkong salju, bubur campur dan es teler dengan tampilan lebih segar dan estetik. Tak sekadar menghadirkan nostalgia, tempat ini juga memberikan pengalaman baru menikmati kuliner tradisional di ruang yang nyaman dan ramah bagi berbagai kalangan.
Nama Jaje Tampah memiliki makna yang lekat dengan budaya Bali. “Jaje” berarti kue atau jajanan tradisional, sedangkan “tampah” merupakan wadah anyaman bambu yang biasa digunakan untuk menyajikan beragam kue dalam satu tempat.
Pemilihan nama tersebut merepresentasikan konsep yang menggabungkan aneka sajian Nusantara dalam satu wadah dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan cita rasa aslinya.
Karyawan Jaje Tampah, Cindy Dwi Desmitasari, menjelaskan bahwa konsep tersebut dihadirkan untuk memberikan kesan baru pada kuliner tradisional. “Kita mengubah jajanan tradisional menjadi lebih modern agar terasa lebih berkesan,” ujarnya.
Upaya modernisasi itu tidak menghilangkan cita rasa asli. Sebaliknya, rasa khas tetap dipertahankan, sementara tampilan dan penyajian dibuat lebih menarik. Singkong salju, misalnya, hadir dengan taburan santan lembut menyerupai salju yang menghadirkan sensasi manis dengan tekstur empuk di setiap gigitan. Hidangan sederhana yang akrab di lidah ini terasa naik kelas tanpa kehilangan identitasnya.
Bubur campur yang dicicipi menghadirkan perpaduan berbagai isian dengan komposisi seimbang. Kuah santannya gurih dan lembut, berpadu dengan manis yang pas sehingga menciptakan rasa hangat dan menenangkan. Penyajian dalam wadah modern membuat sajian ini memadukan nuansa tradisional dengan tampilan kekinian.
Es teler menjadi pilihan menyegarkan di tengah cuaca Surabaya yang cenderung panas. Potongan buah segar berpadu dengan sirup dan susu dalam takaran seimbang sehingga menghasilkan rasa manis yang ringan dan tidak berlebihan. Penyajiannya yang rapi menjadikan menu ini tidak hanya nikmat disantap, tetapi juga menarik untuk diabadikan.
Selain itu, es pisang ijo menjadi salah satu andalan yang tak kalah diminati. Sajian khas Makassar tersebut dihadirkan dengan tampilan lebih modern tanpa menghilangkan ciri utamanya.
Potongan pisang yang dibalut adonan hijau lembut berpadu dengan bubur sumsum gurih, lalu disiram sirup merah dan susu dengan takaran pas. Perpaduan manis dan gurih menghadirkan sensasi segar yang seimbang di setiap suapan.
Disajikan dalam wadah estetik, menu tersebut tampak menggoda untuk dinikmati, terutama saat pagi maupun siang hari. Tekstur buahnya lembut dan tidak terlalu manis, sementara kuah santan tetap mempertahankan cita rasa autentik.
Cindy menambahkan, perbedaan tempat ini dengan usaha sejenis terletak pada bahan baku yang didatangkan langsung dari Bali, terutama gula merah dan sirup untuk es pisang ijo. Komitmen terhadap kualitas tersebut menjadi nilai lebih yang memperkuat cita rasa autentik.
Karyawan Jaje Tampah sedang membuat bubur tradisional untuk disajikan kepada pelanggan. Pada Rabu, 11 Februari 2026. (Foto: Faydzaki Ananta / ketik.com)
Cabang Manukan Tama merupakan cabang kedua setelah sebelumnya hadir di Bali dengan semangat yang sama, yakni memperkenalkan jajanan tradisional melalui sentuhan modern.
Menu yang paling diminati antara lain bubur campur, singkong salju, es teler, es pisang ijo, ketan durian dan klepon Bali. Keberagaman pilihan tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional masih tinggi, terutama ketika dikemas dengan pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan gaya hidup masa kini.
Kafe ini buka setiap hari pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB. Cindy mengungkapkan lonjakan pengunjung biasanya terjadi mulai pukul 18.00 WIB hingga waktu tutup. Pada waktu tersebut, warga sekitar berdatangan untuk bersantai sambil menikmati camilan manis selepas beraktivitas. Suasana hangat serta pelayanan ramah turut menjadi daya tarik tersendiri.
Surya, salah seorang pembeli, mengaku puas dengan rasa yang ditawarkan. Ia juga menilai suasana tempatnya nyaman untuk bersantai.
“Rasanya enak dan cocok diminum di pagi hari, apalagi masih segar. Tempatnya cozy dan bersih, jadi betah kalau nongkrong di sini,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Paulenta yang juga mencicipi menu tersebut. Menurutnya, perpaduan rasa manis dan gurih terasa menyegarkan dan cocok dinikmati sebagai pelepas dahaga. “Ini enak banget, apalagi dimakan di siang hari dengan cuaca Surabaya yang panas,” katanya.
Kehadiran Jaje Tampah membuktikan bahwa makanan tradisional tidak pernah benar-benar tertinggal oleh zaman. Melalui kreativitas dan inovasi, warisan kuliner Nusantara mampu menemukan panggung baru di tengah tren modern. (*)
