KETIK, MALANG – Perjalanan Drs. H. Imron, M.Ag., menuju kursi DPRD Kota Malang bukanlah jalan yang instan. Pria yang akrab disapa Abah Imron ini memulai kariernya dari dunia birokrasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik.
Pria kelahiran Malang ini mengawali karier sebagai guru di SMA Negeri 2 Malang pada 1993. Seiring waktu, ia dipercaya menjadi pengawas Pendidikan Agama Islam, kemudian menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasi) di bidang pendidikan. Kariernya terus menanjak hingga menduduki posisi strategis sebagai Kepala Kementerian Agama di beberapa wilayah, mulai dari Kota Batu (2012–2014), Kota Malang (2014–2016), hingga Kabupaten Malang (2016–2018).
Latar belakang sebagai birokrat membuat Abah Imron cukup dikenal luas, terutama di kalangan guru agama, kepala madrasah, hingga jemaah haji. Jaringan tersebut menjadi salah satu modal sosial yang kuat saat ia memutuskan beralih ke dunia politik.
Menjelang masa pensiun, sekitar delapan bulan sebelum purna tugas, Abah Imron mengaku mulai didekati berbagai partai politik. Namun, ia tidak serta-merta menerima tawaran tersebut. Ia memilih mempertimbangkannya secara matang, termasuk melalui pendekatan spiritual.
“Saya minta petunjuk dulu, istilahnya istikharah, untuk menentukan langkah ke depan,” ungkapnya.
Keputusan akhirnya mantap setelah mendapat dorongan dari Wali Kota Malang saat itu, Sutiaji, yang merupakan rekan lama sejak masa kuliah dan mondok. Selain itu, dukungan keluarga, khususnya istri, turut menguatkan langkahnya untuk terjun ke politik.
Ia kemudian memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ASN dan mengajukan pensiun lebih awal demi memenuhi syarat pencalonan legislatif. Pada Pemilu 2019, Abah Imron resmi maju sebagai calon legislatif dari Partai Demokrat.
Berkat pengalaman panjang di birokrasi serta kedekatan dengan masyarakat, ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam meraih suara. “Alhamdulillah, waktu itu saya optimistis karena punya basis binaan, seperti guru agama dan jemaah haji,” ujarnya.
Hasilnya, ia berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Kota Malang untuk periode 2019–2024, kemudian kembali melanjutkan ke periode kedua 2024–2029 dan menjadi Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Malang. Selain itu, saat ini ia juga dipercaya menjadi Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Malang.
Perjalanan Abah Imron menunjukkan bahwa transisi dari birokrasi ke politik bukan sekadar perpindahan profesi, tetapi juga bentuk pengabdian yang berkelanjutan. Dengan pengalaman panjang di pemerintahan, ia membawa perspektif berbeda dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. (*)
