KETIK, YOGYAKARTA – Ada yang berbeda pada perayaan Syawalan Yayasan Joxzin Lawas Indonesia tahun ini. Jika biasanya keriuhan silaturahmi mereka identik dengan sudut Alun-Alun Utara Yogyakarta tempat sejarah Joxzin bermula. Kini mereka memilih melabuhkan rindu di sebuah lokasi yang jauh lebih bermakna secara spiritual.
Minggu, 29 Maret 2026, sekitar 200 anggota dan pengurus dari berbagai penjuru Yogyakarta memadati Pondok Pesantren At-Taqwa Karang, Poncosari, Srandakan, Bantul. Lokasi ini bukan sekadar tempat pertemuan biasa. Inilah "Tabon" atau markas besar yang kini telah sah menjadi aset yayasan senilai miliaran rupiah.
“Sekarang kita pindah ke tempat yang memang sudah menjadi aset yayasan. Tanah dan bangunan ini berasal dari wakaf yang jika dihitung nilainya mencapai miliaran rupiah,” ujar Ervian Parmunadi, Ketua Yayasan Joxzin Lawas Indonesia, di tengah suasana akrab penuh kekeluargaan.
Ervian menegaskan bahwa keberadaan PP At-Taqwa, yang telah beroperasi sejak Juni 2025, merupakan wujud transformasi nyata. Di sini, langkah dakwah mereka tidak lagi sekadar wacana. Fokusnya konkret: membina anak-anak dan lansia di sekitar pondok untuk mendalami Al-Quran, Fiqih, hingga Akhlak.
Jejak Manfaat yang Terukur
Syawalan kali ini tak sekadar menjadi ajang ramah tamah dan berbagi cerita masa lalu. Tetapi juga membeberkan catatan pengabdian mereka selama satu tahun terakhir yang tergolong masif. Program-program yang dijalankan disusun secara terencana, terstruktur, dan yang terpenting: terukur.
Sepanjang Ramadan lalu, jejak manfaat mereka menyentuh pelosok DIY. Sebanyak 3.000 paket takjil didistribusikan ke 20 masjid di daerah-daerah terpencil, mulai dari Girikarto di Gunung Kidul hingga Jatimulyo di Kulon Progo. Tak berhenti di situ, bingkisan lebaran berupa sembako dan alat ibadah juga disalurkan kepada 145 marbot serta kaum dhuafa sebagai bentuk apresiasi bagi penjaga rumah Tuhan.
Konsistensi menjadi kunci utama bagi yayasan yang lahir dari semangat reuni tahun 2017 ini. Meski laporan disampaikan setahun sekali, aksi sosial seperti distribusi hewan kurban ke wilayah minim kurban telah rutin berjalan selama lima tahun berturut-turut.
Rata-rata, lima ekor lembu dan delapan ekor kambing setiap tahunnya dikirimkan ke pelosok dusun demi memastikan kebahagiaan Idul Adha merata hingga ke ujung desa.
Ratusan pengurus dan anggota Yayasan Joxzin Lawas Indonesia berfoto bersama di "Tabon" atau markas besar yayasan yang berlokasi di PP At-Taqwa Bantul. Acara Syawalan ini dihadiri oleh anggota dari berbagai wilayah di DIY untuk memperkuat komunikasi sekaligus melaporkan berbagai capaian program sosial setahun terakhir. (Foto: Udin for Ketik.com)
Identitas Baru: Bukan Sekadar Nama
Di sela acara, Ervian Parmunadi memberikan penegasan penting terkait identitas organisasi. Ia menyatakan bahwa Yayasan Joxzin Lawas Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Meskipun memiliki nama yang hampir serupa dengan organisasi lain, ia memastikan secara organisasi, kepengurusan, maupun kegiatan, tidak ada keterkaitan sama sekali.
Manifestasi semangat "Khoirunnas Anfa'uhum Linnas" (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain) juga diwujudkan melalui jalur hukum.
Yayasan ini telah lama membawahi LBH Yayasan Joxzin Lawas Indonesia, yang memberikan konsultasi dan pendampingan hukum gratis bagi warga tidak mampu.
Dari pertemuan di Bantul ini, Yayasan Joxzin Lawas Indonesia seolah mengirimkan pesan kuat: bahwa sejarah masa lalu adalah pijakan, namun kemanfaatan bagi umat adalah tujuan masa depan yang tak bisa ditawar lagi. (*)
