KETIK, SURABAYA – Di tengah padatnya aktivitas warga Kota Pahlawan, sebuah warung nasi pecel yang ada di jalan Jetis, Surabaya, menawarkan kuliner tradisional yang tak lekang oleh waktu. Menjadi salah satu destinasi kuliner tradisional yang menarik perhatian warga.
Beroprasi selama 24 jam nonstop, warung ini menjadi pilihan dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja hingga ojek online yang mencari santapan kapan saja, baik pagi, siang, malam hingga dini hari.
Keunikan warung ini terletak pada penyajiannya yang masih mempertahankan tradisi lama, yakni menggunakan alas daun jati atau yang akrab disebut godong jati.
Seporsi nasi pecel beralaskan daun jati lengkap dengan sayuran yang disiram bumbu pecel diatasnya. Rabu, 11 Februari 2026. (Foto : Syakira Rizki Thalita/Ketik.com)
Aroma khas daun jati yang terkena nasi hangat menghadirkan sensasi tersendiri yang jarang ditemui di tengah dominasi kemasan modern perkotaan. Konsep ini bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari identitas kuliner daerah asalnya, Tuban, Jawa Timur
Karyawan warung pecel, Sania Salsabilla mengatakan penggunaan daun jati sudah menjadi ciri khas sejak awal usaha ini berdiri. Menurutnya, konsep tersebut memang dibawa langsung dari daerah asalnya, Tuban.
“Dari awal buka sudah pakai godong jati karna ciri khas pecel Tuban memang pakai alas godong jati,” ujar karyawan warung tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa warung yang berada di Jetis ini adalah cabang, sedangkan pusatnya berada di Semanding, Tuban, Jawa Timur. Meski berada di kota besar seperti Surabaya, konsep tradisional tetap dijaga tanpa banyak perubahan.
Justru, sentuhan tempo dulu itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan. Penggunaan daun jati tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga memberikan pengalaman makan yang lebih autentik dan berbeda dibandingkan nasi pecel pada umumnya.
Bagi yang ingin berkunjung, lokasi warung ini cukup mudah dijangkau, termasuk dari kawasan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Kampus Ketintang. Dari gerbang Unesa, pengunjung dapat menuju Jalan Ketintang Timur PTT, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh 550 meter.
Setelah itu, belok kiri dan masuk ke kawasan Jetis Kulon. Warung pecel berada di pinggir jalan dengan banner kuning bertuliskan “Warung Pecel + Sambel PDS mbak Siti”, cukup mudah dikenali karena ramai pengunjung, terutama pada jam makan. Waktu tempuh dari Unesa sekitar 5 menit menggunakan kendaraan bermotor, tergantung kondisi lalu lintas.
Dari segi rasa, pecel ini menawarkan perpaduan bumbu kacang yang kental dengan cita rasa khas Tuban. Rasa yang gurih, sedikit manis, dan berpadu dengan aneka sayuran segar seperti kangkung, tauge, dan kacang panjang.
Lauk pelengkap seperti tempe, tahu, telur, hingga ayam semakin melengkapi sajian. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp6.000 per porsi sehingga ramah di kantong mahasiswa maupun pekerja.
Salah satu pembeli, Lidya, seorang mahasiswa mengaku mengetahui tempat ini rekomendasi temannya. Ia datang karena merasa lapar dan mencari tempat makan.
“Kebetulan waktu itu kami sama sama belum makan terus dia rekomendasi buat makan di sini,” ujar Lidya
Soal rasa, Lidya menilai pecel godong jati ini cukup memuaskan dan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan nasi pecel lainnya.
“Menurut saya rasanya enak ya kalau dibanding pecel-pecel yang lain, dia cukup recommended. Kalo tipe saya ya masuk lah, terus juga karna alasnya dari daun jati ya, jadi menurut saya ada ciri khas tersendiri gitu ya, unik gitu,”
Tak hanya mahasiswa, kalangan pekerja juga menjadi pelanggan setia warung ini. Hermawan, seorang pekerja swasta, mengaku sering membeli nasi pecel tersebut untuk sarapan sebelum memulai aktivitasnya.
“Sering saya beli disini untuk sarapan, karna harganya murah juga enak,” ujarnya singkat
Dengan mengusung cita rasa khas Tuban, penyajian tradisional menggunakan godong jati, serta jam operasional 24 jam, warung pecel di Jetis Wonokromo ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap diminati dan mampu beradaptasi dengan masyarakat kota. (*)
