KETIK, SURABAYA – Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) mengeluarkan data angka kemiskinan sepanjang 2025 yang disampaikan bersamaan dengan paparan kondisi ketenagakerjaan, ketimpangan, dan pertumbuhan ekonomi daerah pada Februari 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati mengungkapkan, persentase kemiskinan turun. Pada September 2025 tercatat sebesar 9,30 persen, angka tersebut turun sebanyak 0,20 persen dibandingkan Maret 2025.
Penurunan penduduk miskin di wilayah perkotaan berkurang sekitar 3,4 ribu orang. Di pedesaan bahkan turun cukup signifikan, yaitu 68,2 ribu orang.
"Jika ditotal, jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 3,804 juta orang, menurun 71,59 ribu orang dibandingkan Maret 2025," katanya pada Sabtu 7 Februari 2026.
Penurunan angka kemiskinan ini menurut Herum karena ada perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Jumlah angkatan kerja pada November 2025 mencapai 24,96 juta orang, atau bertambah 194,96 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
"Kenaikan didorong bertambahnya lapangan usaha. Sektor dengan peningkatan terbesar berasal dari penyediaan akomodasi dan makan minum yang menyerap tenaga kerja sebesar 103,59 ribu orang," jelas Herum.
Dengan membaiknya ketenagakerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim. Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025 atas dasar harga berlaku, nilai ekonomi Jatim mencapai Rp 3.403,17 triliun dengan PDRB per kapita sebesar Rp 80,86 juta.
“Secara tahunan, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,33 persen (c-to-c). Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi berasal dari Jasa Perusahaan sebesar 9,24 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran didorong oleh Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh 6,63 persen,” pungkasnya. (*)
