KETIK, JOMBANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, menuai sorotan setelah sejumlah paket makanan yang didistribusikan pada Senin, 19 Januari 2026 dilaporkan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Keluhan tidak hanya datang dari satu sekolah. Sejumlah wali murid menyebutkan masalah kualitas makanan terjadi di beberapa wilayah penerima MBG yang diduga dikelola dapur SPPG Yayasan Miftahul Ulum Dero, Kedungbetik, Kecamatan Kesamben, Jombang.
Salah seorang wali murid berinisial LF mengungkapkan bahwa keluhan terkait menu MBG bersifat merata, bukan hanya di satu desa.
“Iya mas, menu MBG dari SPPG Miftahul Ulum banyak dikeluhkan. Tidak hanya di Dero, Kedungbetik, Kesamben saja, tapi merata,” ujar LF, Selasa, 20 Januari 2026.
Ia menuturkan, anaknya yang bersekolah di SD Candisari mengaku tidak mengonsumsi makanan MBG karena rasanya sudah basi.
“Anak saya ngomong sendiri kalau makanannya basi. Tidak mungkin anak kecil mengada-ada. Katanya nasi dan lauknya sudah tidak enak, jadi tidak dimakan dan akhirnya makan di rumah,” katanya.
Temuan serupa juga diungkapkan oleh sejumlah guru penerima paket MBG. Beberapa menu dilaporkan berbau tidak sedap, bahkan ayam diduga masih terdapat darah. Selain itu, tahu pong ditemukan dalam kondisi lembek dan basah, buah melon beraroma kecut, serta sayur yang mengeluarkan bau basi hingga akhirnya dibuang.
“Ada bau tidak enak, dan seperti masih ada darahnya,” ujar salah satu guru.
Kondisi tersebut membuat satu sekolah memutuskan menolak paket MBG, sementara sekolah lain terlanjur menerima sebelum menemukan kejanggalan pada menu makanan.
Paket menu program MBG basi yang diduga berasal dari dapur SPPG Miftahul Ulum Dero, Kesamben, Jombang tersebut tidak hanya sekali Ini saja. Tetapi seminggu lalu juga terjadi hal yang sama, lauk telur disebut juga diterima siswa dalam kondisi basi.
Beruntung Menu MBG Tak Dikonsumsi dan Bisa Sebabkan Keracunan
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 2 Kesamben, Nur Khasanah, makanan program MBG tak layak konsumsi juga ditemukan di sekolahnya.
Namun, beruntung menu program MBG basi diduga dari dapur SPPG Miftahul Ulum Dero, Kesamben, Jombang tidak sampai dikonsumsi siswa dan mengalami keracunan. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah memiliki prosedur pengecekan sebelum makanan dibagikan kepada siswa.
“Setiap hari sebelum dibagikan ke anak-anak, kami punya tim untuk mencicipi makanan. Kemarin dirasa lauknya agak bau, lalu kami ambil sampel lain dan ternyata sama,” jelasnya.
Pihak sekolah kemudian langsung menghubungi SPPG. Menindaklanjuti laporan tersebut, makanan ditarik kembali oleh pengelola dapur.
“Kami langsung hubungi pihak SPPG dan mereka mengambil langkah menarik kembali makanannya. Mereka juga berjanji akan mengganti. Kami selalu berkoordinasi karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Nur Khasanah.
Ia menegaskan, kejadian tersebut baru terjadi pada hari itu dan langsung ditangani melalui koordinasi dengan pengelola MBG.
Sementara itu, Kepala Dapur SPPG Yayasan Miftahul Ulum Dero, Fahmy Ardy Ansyah, hingga berita ini dimuat, belum bisa dikonfirmasi. (*)
