KETIK, NAGAN RAYA – Setelah dua hari dihantam banjir besar, kondisi air di sejumlah wilayah Kabupaten Nagan Raya seperti Desa Panton Pange, Kecamatan Tripa Makmur, serta Desa Lamie, Kecamatan Darul Makmur dan sekitarnya, mulai surut sejak pukul 04.00 WIB, Jumat, 28 November 2025.
Meski air telah turun, pemandangan memilukan masih terlihat di hampir seluruh sudut desa yang terdampak. Lumpur-lumpur masih larut di antara rumah warga. Genangan air pun tak terhindarkan.
Sejak pagi, warga mulai sibuk membersihkan rumah mereka yang penuh dengan lumpur. Tebalnya lumpur yang mencapai lutut hingga paha menyulitkan proses pembersihan. Bau lumpur bercampur genangan air yang belum kering masih menyelimuti wilayah tersebut.
Hingga hari ini, warga mengaku belum ada bantuan dari pihak manapun. Mereka masih berjuang dengan alat seadanya untuk membersihkan rumah, memperbaiki yang tersisa, dan mengeringkan perabotan yang masih dapat diselamatkan.
Tak hanya itu, beberapa warga juga harus menerima kenyataan pahit. Rumah mereka sebagian rusak diterjang kuatnya arus banjir, sebagian lainnya kehilangan harta benda, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga karena ikut hanyut terbawa air.
“Kami benar-benar butuh bantuan. Banyak rumah yang terdampak banjir, barang-barang hilang, dan lumpur sangat tebal. Sampai sekarang belum ada bantuan datang. Kami hanya mengandalkan tenaga sendiri,” ujar Eka, salah satu warga Desa Panton Pange dengan suara berat, Sabtu, 29 November 2025.
Selain memporak-porandakan pemukiman penduduk, banjir juga merusak infrastruktur jalan. Jalur penghubung antara Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tripa Makmur sempat putus karena derasnya air.
Kondisi tersebut membuat kendaraan tidak dapat melintas. Hanya sepeda motor yang dapat melalui jalur tersebut, itu pun harus mengandalkan tutu (papan penyangga) agar dapat menyeberang. Informasi terkait akses Tripa Bawah (Lamie – Kuala Tuha) masih belum dapat dipastikan karena komunikasi dan akses lapangan terhambat.
Dengan kondisi perkampungan yang porak-poranda, lumpur yang menutupi lantai dan halaman rumah, serta jalur transportasi yang rusak parah, warga berharap pemerintah maupun lembaga kemanusiaan segera turun ke lokasi.
“Kami bukan hanya butuh makanan dan air bersih. Banyak anak-anak, orang tua, dan ibu-ibu yang trauma. Kami butuh uluran tangan segera, sebelum kondisi semakin sulit,” tambah Eka.
Untuk saat ini, masyarakat di Desa Panton Pange, Lamie, Tripa Makmur dan desa sekitar hanya bertahan dengan apa yang tersisa. Mereka berharap bantuan logistik, alat kebersihan, pakaian layak pakai, dan dukungan pemerintah segera datang.
Situasi pasca banjir di Nagan Raya masih jauh dari pulih. Warga kini mempertaruhkan tenaga dan harapan agar kehidupan bisa kembali normal, meski bekas luka banjir masih jelas terlihat di setiap sudut desa. (*)
