Keputusan Muhammadiyah soal Awal Ramadan 1447 H Selaras dengan Kitab Falak Abad ke-19 dan Kalender Ummul Qura

17 Februari 2026 20:36 17 Feb 2026 20:36

Thumbnail Keputusan Muhammadiyah soal Awal Ramadan 1447 H Selaras dengan Kitab Falak Abad ke-19 dan Kalender Ummul Qura

Ratusan jamaah Muhammadiyah yang akan mengikuti salat tarawih di Masjid AR Fachruddin UMM Malang, Selasa, 17 Februari 2026. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, ternyata selaras dengan kitab falak klasik abad ke-19. Kitab tersebut adalah Al-Tawfīqāt al-Ilhāmiyyah karya ulama Mesir, Muhammad Mukhtar Pasha.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ajengan Wawan Gunawan Abdul Wahid menyebutkan, dalam karya itu Mukhtar Pasha menyusun sinkronisasi kalender Hijriah dengan kalender Masehi dan Qibti. Pada tabel tahun 1447 H, ia mencantumkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, serta 1 Syawal pada Jumat, 20 Maret 2026.

Keselarasan ini muncul di tengah penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah yang memandang bumi sebagai satu kesatuan sistem tanggal. Dalam pendekatan tersebut, awal bulan ditetapkan berdasarkan keterpenuhan parameter visibilitas hilal secara global dalam satu siklus hari.

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menjelaskan bahwa penggunaan lokasi rujukan global—termasuk wilayah seperti Alaska—merupakan konsekuensi penerapan kriteria ilmiah hasil forum internasional penyatuan kalender Islam 2016. Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi bulan minimal lima derajat dan elongasi delapan derajat.

Selain selaras dengan Al-Tawfīqāt al-Ilhāmiyyah, penetapan PP Muhammadiyah ini juga bertepatan dengan kalender Ummul Qura di Arab Saudi. Kalender Ummul Qura menggunakan prinsip bahwa selama bulan terbenam setelah matahari (moonset after sunset), maka bulan baru telah dimulai tanpa syarat ketinggian minimum.

Pada petang 17 Februari di Mekah, posisi bulan sudah berada di atas ufuk. Artinya, menurut kriteria Ummul Qura, syarat masuknya bulan baru telah terpenuhi sehingga pelaksanaan tarawih di Tanah Suci berpotensi berlangsung pada malam yang sama dengan warga Muhammadiyah di Indonesia. (*)

Tombol Google News

Tags:

Muhammadiyah 1 Ramadan 1447 H Awal Puasa Ramadan 2026 Al-Tawfīqāt al-Ilhāmiyyah Ummul Qura