KETIK, CILACAP – Cuaca ekstrem yang memicu angin kencang dan gelombang tinggi di perairan Laut Selatan membuat nelayan di Pantai Kemiren, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, enggan melaut. Nelayan tidak berani mengambil risiko jika tetap menerjang gelombang tinggi.
Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kemiren, Sudir, mengatakan bahwa di saat kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini para nelayan di Kemiren tidak berani melaut. Mereka tetap berangkat ke laut, tetapi melihat situasi terlebih dahulu. Apabila dirasa anginnya kencang dan gelombangnya tinggi, maka mereka tidak jadi melaut. Biasanya kondisi ini terjadi pada bulan Januari hingga Februari.
"Kondisi pantai saat ini jelas terlihat ombaknya besar, anginnya kencang. Meski kita butuh makan, namun keselamatan adalah prioritas utama. Saya kira tidak hanya nelayan di Pantai Kemiren saja, namun saya yakin hampir semua nelayan di Cilacap berpikir sama, dalam situasi saat ini tidak berani melaut," ujar Sudir saat ditemui, Rabu, 21 Januari 2026.
Sudir, Ketua TPI Kemiren, Kelurahan Tegalkamulyan Cilacap Selatan. (Foto: Nani Eko/Ketik)
Sudir menambahkan, dengan kondisi saat ini tentunya penghasilan nelayan berkurang. "Hampir 50 persen berkurangnya, ya mau gimana lagi kita lebih mementingkan keselamatan," pungkasnya.
Lebih lanjut, Sudir mengungkapkan, keadaan TPI di Kemiren sekarang tidak begitu ramai, aktivitas nelayan jadi berkurang.
"Sebagian besar nelayan memanfaatkan masa jeda ini untuk memperbaiki alat tangkap, kapal, serta perlengkapan lainnya. Ada pula yang beralih sementara menjadi tukang kuli bangunan," terangnya.
Sementara itu, tidak hanya penghasilan nelayan yang menurun drastis, Sudir menyampaikan bahwa hampir semua jenis ikan mengalami kenaikan harga karena hasil tangkap nelayan menurun. Kelangkaan ikan juga terdapat di pasar dan di TPI.
Ia menjelaskan harga ikan lumadang naik dari Rp27 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, sementara ikan kembung dari Rp30 ribu menjadi Rp35 ribu.
Ikan jahan kini dijual Rp25 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp20 ribu, sedangkan ikan salmon naik dari Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.
Kenaikan paling terasa terjadi pada cumi-cumi yang melonjak dari Rp25 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram akibat pasokan yang semakin terbatas.
Selanjutnya, layur kecil dipasarkan Rp20 ribu per kilogram, layur besar Rp35 ribu per kilogram, dan ikan dang naik menjadi Rp75 ribu per kilogram.
"Meski kondisi seperti ini selalu dialami nelayan setiap tahunnya, tapi kita tetap merasa prihatin di masa-masa paceklik karena kondisi alam," tandas Sudir. (*)
