KETIK, JAKARTA – Hujan deras yang masih sering mengguyur berbagai wilayah nusantara akhir-akhir ini mungkin membuat anda berpikir bahwa musim kemarau masih sangat jauh. Padahal di balik cuaca basah tersebut ada ancaman kekeringan ekstrem yang sedang mengintai diam-diam.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) baru saja merilis peringatan penting bahwa fenomena iklim La Nina telah resmi berakhir pada Februari lalu dan kini wilayah Indonesia tengah bersiap menyambut datangnya El Nino.
Transisi iklim global ini diprediksi akan membuat musim kemarau 2026 datang lebih cepat dari rerata normalnya dengan suhu yang dipastikan jauh lebih memanggang.
Berdasarkan data pantauan anomali cuaca global saat ini kondisi iklim di Samudra Pasifik sedang berada pada fase netral. Namun, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa peluang kemunculan El Nino kategori lemah hingga moderat akan semakin meningkat pada paruh kedua tahun ini.
Hal ini terlihat sangat jelas dari peta anomali suhu muka laut global bulan Februari 2026 yang menunjukkan adanya pergerakan panas yang memicu awal musim kemarau lebih maju.
“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” ujar Faisal dalam sesi konferensi pers.
Ancaman hawa panas ini makin terkonfirmasi lewat data pergerakan angin. Peralihan aliran udara dari monsun Asia menuju monsun Australia menjadi penanda kuat dimulainya fase kemarau. BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim atau ZOM yang setara dengan 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April dua ribu dua puluh enam.
Area ini mencakup pesisir utara Jawa bagian barat sebagian besar wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur serta sebagian kecil daratan Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan bahwa gelombang hawa panas ini akan merambat secara bertahap. Beliau merinci bahwa 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah akan menyusul masuk musim kemarau pada bulan Mei dan 163 ZOM atau 23,3 persen pada bulan Juni.
Berdasarkan data komprehensif tersebut Ardhasena menegaskan bahwa awal kemarau di 325 ZOM atau 46,5 persen wilayah diprediksi maju atau terjadi lebih cepat dari biasanya. Sementara itu 24,7 persen wilayah diprediksi sama dengan siklus normal dan 10,3 persen sisanya diprediksi mundur.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujar Ardhasena melengkapi pemetaan tersebut.
Berdasarkan analisis mendalam dari BMKG puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus mendatang. Fase kritis ini akan mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Sementara itu sisa wilayah lainnya akan mengalami puncak kemarau pada bulan Juli sebesar 12,6 persen dan bulan September sebesar 14,3 persen.
Menghadapi ancaman kemarau panjang yang kian merata ini kita tentu tidak boleh hanya berdiam diri. Pihak BMKG menyoroti urgensi kesiapan infrastruktur untuk menghadapi krisis kekeringan massal ini.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” papar Faisal menekankan solusi konkretnya.
Manajemen tata kelola air yang matang memang menjadi kunci pertahanan utama dalam menghadapi anomali cuaca ini. Pasalnya saat kemarau berkepanjangan melanda pasokan air baku untuk saluran irigasi pertanian dan kebutuhan harian warga dipastikan bakal menyusut drastis.
Jika cadangan air di bendungan tidak diatur dengan cermat ancaman gagal panen hingga krisis pasokan listrik dari pembangkit tenaga air bisa menjadi masalah serius yang merugikan publik. Oleh karena itu koordinasi terpadu dari berbagai sektor sangat krusial untuk mencegah dampak terburuk sebelum puncak kemarau tiba.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” tutur Faisal menutup sesi penjelasan tersebut.
Pesan dari BMKG ini menjadi alarm bagi kita semua untuk mulai bijak menggunakan air bersih dalam keseharian rumah tangga. Selain itu masyarakat juga diimbau untuk selalu menjaga tingkat hidrasi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih saat harus beraktivitas di bawah terik matahari yang menyengat. (*)
