Wayang Kulit Ki Sudrun di Blitar Jadi Media Dakwah, Kritik Hukum Tumpul dan Kerusakan Alam

3 Januari 2026 09:45 3 Jan 2026 09:45

Thumbnail Wayang Kulit Ki Sudrun di Blitar Jadi Media Dakwah, Kritik Hukum Tumpul dan Kerusakan Alam
Suasana dakwah kultural Ki Sudrun, di Blitar, Jumat 2 Januari 2025. (Foto: Favan/Ketik.com)

KETIK, BLITAR – Denting gamelan mengalun pelan di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jumat, 2 Januari 2025. Malam itu tak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga perenungan.

Di balik bayang-bayang wayang kulit, Ki Sudrun menyelipkan dakwah, kritik sosial, dan kegelisahan atas negeri yang kian sering diguncang bencana.

Ribuan pasang mata menyimak pagelaran wayang kulit bertajuk "Noyorono Potong Kaki". Sekitar seribu jemaah Patekah hadir, larut dalam suasana spiritual yang bertahan hingga dini hari.

Di antara mereka, tampak tokoh-tokoh spiritual, pengusaha, pimpinan pondok pesantren, hingga aparat kepolisian setempat yang ikut menyaksikan jalannya pentas budaya tersebut.

Ki Sudrun, warga Desa Krenceng yang dikenal dengan pendekatan dakwah kultural, memilih wayang sebagai medium. Baginya, pesan moral akan lebih mudah meresap ketika dibalut seni dan tradisi yang akrab dengan masyarakat.

“Wayang itu cermin. Kadang kita tertawa, kadang terdiam, lalu sadar bahwa yang ditertawakan itu diri kita sendiri,” ujarnya pelan.

Dalam lakon yang dibawakan, Noyorono digambarkan sebagai putra raja yang bijak, dicintai rakyat, namun tergelincir oleh godaan harta. Ia melanggar norma hukum. Sang Ratu simbol keadilan tak ragu menjatuhkan hukuman potong kaki, meski pelanggar itu adalah darah dagingnya sendiri.

Pesan itu mengalir tanpa teriak. Namun, justru di situlah kekuatannya. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tak boleh ada keistimewaan bagi mereka yang berkuasa.

Ki Sudrun menyebut, lakon tersebut lahir dari keprihatinannya melihat realitas hari ini. Bencana alam datang silih berganti. Hutan dibabat, bumi dikeruk, sementara hukum sering kali terasa “tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

“Kalau alam murka, itu bukan tanpa sebab. Manusia lupa diri, lupa batas, lalu hukum kehilangan ketegasan,” katanya.

Di sela pagelaran, jamaah diajak merenung tentang hakikat hidup. Tentang kesombongan manusia yang merasa berkuasa, padahal sejatinya hanya digerakkan oleh Yang Maha Hidup.

“Kami bukan orang baik. Kami hanya belajar supaya bisa menjadi lebih baik. Kalau badan ini bisa bergerak, bicara, dan berbuat, itu karena ada yang menghidupi,” ucap Ki Sudrun, disambut hening para jamaah.

Malam itu, wayang tak hanya bicara soal spiritualitas. Nilai kebangsaan pun ikut digaungkan. Seruan menjaga Merah Putih menggema, pekikan Pancasila dikumandangkan, lalu ditutup dengan lagu Syukur. Sebuah penegasan bahwa iman, budaya, dan nasionalisme bisa berjalan seiring.

Kardiyono, atau yang akrab disapa Tonyok, salah satu penggiat Jemaah Patekah, menyebut pendekatan seni menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan pesan dakwah.

“Dengan seni dan budaya, pesan itu lebih masuk. Kami sudah keliling ke berbagai kota bersama Ki Sudrun, dan alhamdulillah bisa diterima semua kalangan,” katanya.

Di penghujung malam, ketika gamelan mulai sunyi dan wayang diturunkan, pesan itu masih menggantung di udara. Tentang keadilan yang seharusnya tegak. Tentang manusia yang perlu kembali rendah hati. Dan tentang alam yang mungkin hanya sedang menagih kesadaran.

Wayang telah selesai. Tapi perenungannya baru saja dimulai. (*)

Tombol Google News

Tags:

Blitar Ki Sudrun Patekah Wayang Dakwah Wayang Kulit Nglegok hutan