KETIK, SURABAYA – Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat tidak mudah menyalahkan seseorang hanya berdasarkan potongan ceramah yang beredar di media sosial.
Imbauan tersebut disampaikan ketika beredarnya potongan ceramah dirinya terkait penjelasan mengenai zakat 2,5 persen yang disampaikan di Jakarta pada 26 Februari 2026. Hal itu kembali ditegaskan Nasaruddin Umar saat menyampaikan Ceramah Subuh di Masjid Agung Al Akbar, Sabtu, 7 maret 2026.
"Jangan salahkan orang dari potongan ceramah, barangkali kita belum sampai kepada apa yang dimaksud penceramah itu. Itu seperti seorang sufi Al-Hallaj (858-922 M) yang dieksekusi mati, karena dianggap sesat, tapi darah yang mengalir dari tubuhnya akhirnya membentuk 'la ilaha illallah' untuk penunjuk bahwa dia benar," katanya.
Dalam ceramah yang dihadiri ribuan jemaah itu, Menag menjelaskan potongan pernyataannya yang viral itu bukan dirinya menganggap zakat itu tidak wajib, namun pemberdayaan umat itu tidak cukup hanya dengan zakat, tapi ada wakaf, infak, sedekah dan banyak pundi-pundi mal yang perlu dioptimalkan, agar kemiskinan umat pun teratasi.
"Mari kita jadikan Masjid Al-Akbar ini sebagai contoh dalam ikhtiar optimalisasi dana sosial keagamaan untuk pemberdayaan jemaah. Di Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab melalui Kementerian Wakaf pun mampu menghimpun dana sosial keagamaan hingga 25-40 persen untuk pemberdayaan masyarakat agar lebih produktif dan berkelanjutan secara sosial dan ekonomi," katanya.
Oleh karena itu, menteri yang juga Wakil Rais Aam Syuriyah PBNU itu mengajak jemaah untuk mengevaluasi Ramadan dengan mempertanyakan posisi martabat beragama saat ini, apakah di bawah/turun atau di atas/naik?
"Segala sesuatu itu diciptakan dengan martabat, ada martabat di bawah, ada martabat di atas. Manusia juga awalnya dari langit, lalu turun/jatuh ke bumi, nantinya naik ke langit lagi," kata ulama yang juga Imam Besar Masjd Istiqlal tersebut.
Menurut Menag, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk selalu melakukan "upgrade" martabat atau meningkatkan diri dari martabat yang turun menjadi naik.
"Al-Quran sendiri juga mengajak 'wahai orang beriman, berimanlah'. Maksudnya bukan tidak beriman agar beriman, tapi meningkatkan keimanan. Ajakan untuk bertakwa sebatas kemampuan juga bukan berarti minimal, tapi ajakan untuk semaksimal mungkin," katanya.
Demikian juga halnya dengan sabar, syukur dan saleh atau baik. Ia mengimbay jangan hanya air susu dibalas air tuba, atau air susu dibalas air susu, atau air tuba dibalas air tuba, tapi akan lebih hebat lagi kalau air tuba dibalas air susu.
"Hati dan mulut harus itu sama-sama indahnya. Bersyukur itu bukan hanya menerima kebaikan dengan berbagi, tapi juga mensyukuri apapun, termasuk musibah. Karena kita harus yakin bahwa segala yang bersumber dari Allah itu baik. Jangan benci dengan musibah, tapi bersahabatlah dengan musibah," katanya.
Oleh karena itu, puasa Ramadan juga harus meningkatkan martabat, baik meningkat biasa, meningkat lebih cepat maupun meningkat lebih cepat lagi.
"Jangan hanya puasa saat Ramadan tapi jadikan untuk meningkatkan martabat ketaatan. Taat jangan karena wajib (berpuasa), tapi taat karena cinta. Kalau puasa dipahami hanya sebatas wajib, maka kita akan terbebani dengan kewajiban," katanya.
Dalam beragama, katanya, martabat itu ada dua tahapan yakni ahli taat dan ahli ibadah (ahlul-Lah). Ahli taat itu memahami taat sebagai kewajiban atau beban. Kalau ahli ibadah (ahlul-Lah) itu memahami ibadah tanpa beban, karena beribadah untuk cinta.
"Kalau ahli taat itu formalitas. Ahli taat itu kalau shalat justru di akhir waktu. Ahli taat itu kalau puasa hanya lapar dan haus, tapi mulut masih ngoceh aib orang, telinga masih ngerumpi, mata masih melihat secara kotor. Itu berbeda dengan ahli ibadah yang betul-betul menghayati ibadah, baik mulut maupun sikap, bahkan kalau khilaf pun langsung minta ampun," tuturnya.
"Wudhu ahli taat itu hanya membasuh, tapi kalau ahli ibadah itu fokus ke otak, sehingga wudhu dengan membasuh kepala, tangan, dan kaki juga menahan dari 'kotoran' bohong, ngerumpi, bahas aib, dan sebagainya," tambah Menag.
Tidak hanya wudhu dan sholat, tapi puasa juga bermakna pembersihan lahir dan batin. "Bukan fiqih saja, tapi spiritualitas, bukan lahir saja, tapi batin juga. Puasa bukan hanya baju, jilbab, celana, sarung, dan sebagainya, tapi juga takut kepada Allah dan yakin kalau Allah bersama kita. Hidup menjadi lekat dengan Tuhan, baik duduk, berdiri, dan berjalan sama-sama fokus ke Allah. Bukan hanya ibadah bumi, tapi juga ibadah langit," katanya.
Saat mengawali ceramah, Menag juga mengajak jemaah membaca Fatihah untuk Almarhum Try Sutrisno, sang pendiri Masjid Al-Akbar dan sejumlah masjid lain yang wafat pada 2 Maret 2026.
Tak itu saja, Menag juga sempat menyerahkan bantuan sosial keagamaan senilai Rp100 juta kepada Badan Pelaksana Pengelola Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. (*)
