KETIK, SIDOARJO – Sampah telah menjadi problem nasional di Indonesia. Di beberapa kota besar ibu kota provinsi, seperti Jakarta, Bandung, dan Denpasar, limbah rumah tangga menumpuk di sudut-sudut kota. PT Tjiwi Kimia Sidoarjo membuktikan bahwa limbah rumah tangga maupun industri sebenarnya punya nilai ekonomis tinggi.
"Kekuatan ekonomi sampah luar biasa. Setiap kehidupan anak manusia tidak lepas dari sampah," kata Manager Public Affair and License PT Tjiwi Kimia Benny Haryawan dalam halalbihalal dengan insan media massa pada Kamis (2 April 2026).
Limbah rumah tangga maupun industri memiliki link peluang di mana-mana. Sampah tidak cukup hanya dijual. Contoh sampah kardus. Setiap hari PT Tjiwi Kimia memerlukan kardus bekas sekitar 1.000 ton per hari.
Kardus bekas itu bisa diolah menjadi beragam produk baru. Salah satunya bahan gelas, mangkuk, dan beragam bahan packaging dari kertas cokelat. Limbah plastik pun diolah menjadi bahan bakar untuk kebutuhan industri.
Kisah sukses PT Tjiwi Kimia dalam mengolah sampah hingga "bernilai emas" itu telah terekam dalam buku berjudul Dialektika Persampahan yang ditulis oleh Tim Wirakologi. Tim Wirakologi berlatar belakang keilmuan yang beragam. Sosiologi, hukum, komunikasi, pendidikan, lingkungan, dan sebagainya.
Pada awal-awal tren teknologi digital, orang sempat ragu dengan produksi kertas. Semua serba paperless. Tapi, begitu dunia menyatakan perang melawan penggunaan plastik untuk kelestarian lingkungan, lanjut Benny, PT Tjiwi Kimia yakin kertas tidak tergantikan. Packaging dari kertas cokelat diekspor ke berbagai negara. Termasuk, Amerika Serikat.
"Di Tjiwi Kimia, tidak pernah ada sampah yang menganggur. Bahkan, sejak berdiri pada 1972, Tjiwi sudah bergelut dengan limbah. Tahun 1974 bikin kertas dari ampas tebu," tegas Benny dalam halabihalal di aula Mob-B, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia di Tarik, Sidoarjo, itu.
Benny Haryawan mengajak insan media untuk bersama-sama menangkap peluang tersebut. Memanfaatkan potensi ekonomis sampah yang begitu besar sekaligus untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Insan media mampu menjadi penghubung dunia industri, masyarakat, dan pemerintah sebagai regulator. Misalnya, mengatur distribusi sampah kertas dari industri. PT Tjiwi Kimia siap berkolaborasi.
"Pemerintah juga bisa mengatur regulasi untuk menyerap produk-produk dari limbah makanan. Misalnya magot," tambah Benny yang disambut tepuk tangan ratusan hadirin.
Dalam halalbihalal hari itu memang hadir ratusan insan media dari Kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto. Diundang pula para aktivis peduli lingkungan dari Wirakologi. Mereka adalah insan media yang punya kepedulian tinggi dalam edukasi dan penguatan partisipasi masyarakat untuk gerakan cinta lingkungan.
Suasana halalbihalal begitu hangat. Benny Haryawan mengajak tim PT Tjiwi Kimia untuk berinteraks dan bersinergi dengan insan media. Dari Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas), PWI Sidoarjo dan Mojokerto, serta IJTI Sidoarjo dan Mojokerto. Semua sangat akrab.
Lebih-lebih, PT Tjiwi Kimia menyiapkan ratusan doorprize untuk para undangan. Baik peralatan rumah tangga, elektronik, maupun sepeda. Jamuannya pun begitu mengesankan.
"Kami berupaya menjalin komunikasi dengan rekan-rekan media agar semakin harmonis," tutur Benny Haryawan.
Benny Haryawan (empat dari kiri) bersama tim Wirakologi setelah halalbihalal yang juga disertai undian doorprize dari PT Tjiwi Kimia. (Foto: Tim Wirakologi)
Benny Haryawan mengungkapkan bahwa Industri tidak bisa bergerak sendiri di tengah masyarakat. Ia membutuhkan dukungan konkret media massa agar keberadaannya bisa dirasakan.
"Peran Industri tidak bisa dipisahkan dari media massa. Kami harus bergandengan tangan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama," jelasnya.
Salah satunya perhatian media kepada lingkungan hidup dan industri. Media tidak hanya berperan mengontrol, tapi juga membangkitkan partisipasi publik agar menjaga lingkungan bersama.
"Kami memberikan perhatian kepada pengelolaan sampah. Kami ingin membangkitkan kesadaran bahwa semua orang harus menjaga kebersihan. Media akan lebih bermakna bila ikut mengambil peran ini," katanya.
Dalam kesempatan halalbihalal itu pula, tim dari Wirakologi juga tampil untuk memperkenalkan diri. Wirakologi berisi sejumlah aktivis yang berlatar belakang beragam.
"Kami melakukan sosialisasi dan edukasi. Kami blusukan ke sekolah dan ke masyarakat membangun kesadaran agar muncul banyak kader lingkungan," kata Anggit Satriyo Nugroho, tim dari Wirakologi.
Benny Haryawan bersama Founder Wirakologi Anggit Satriyo Nugroho dan Fathur Roziq berdiskusi tentang pemberdayaan masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari solusi persoalan sampah. (Foto: Tim Wirakologi).
Banyak hal yang dilakukan. Di antaranya mendidik calon dan content creator serta jurnalis sekolah agar peduli lingkungan. Mereka dilatih untuk mengabarkan kepada semua orang tentang perlunya kepedulian lingkungan. Melalui storytelling ala jurnalis profesional.
Selain itu, Wirakologi juga mengajarkan kepada masyarakat untuk giat membuat bank-bank sampah. "Harapannya lingkungan zero waste. Tapi, sampahnya juga bernilai ekonomi," ujar Anggit yang juga seorang advokat itu.
Menurut dia, peduli lingkungan tidak hanya ditunjukkan dengan mengkritisi kebijakan dan menyorot lingkungan yang buruk akibat pencemaran. Tapi, juga turun tangan mengubah sikap masyarakat dengan pengenalan kebiasaan baru dan kepedulian.
Anggit tak sendiri. Dia mengajak serta tim yang lain untuk memperkenalkan diri. Di antaranya Naufal Widhi, Musonif Afandi, Fathur Roziq, dan Dite Surendra yang selama ini menjadi penggerak kampanye peduli lingkungan hidup. (*)
