Tepat 36 Tahun Sebelum Nicolas Maduro, Amerika Serikat Juga Menangkap Manuel Noriega

3 Januari 2026 22:02 3 Jan 2026 22:02

Thumbnail Tepat 36 Tahun Sebelum Nicolas Maduro, Amerika Serikat Juga Menangkap Manuel Noriega

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, ditangkap pemerintah Amerika Serikat, Sabtu, 3 Januari 2026. Penangkapannya terjadi tepat 30 tahun usai penangkapan Presiden Panama, Manuel Noriega, oleh pasukan Amerika. (Foto: instagram @nicolasmaduro)

KETIK, JAKARTA – Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer dan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya, oleh Amerika Serikat pada Sabtu, 3 Januari 2026. Penangkapan ini dikhawatirkan dapat memicu konflik baru di kawasan Amerika Latin.

Bagi Amerika Serikat, yang kerap memosisikan diri sebagai “polisi dunia”, mengintervensi negara lain dan menggulingkan pemimpinnya bukanlah hal baru. Di sejumlah negara, seperti Irak dan Libya, langkah serupa juga pernah dilakukan.

Di kawasan Amerika Latin, Venezuela bukanlah negara pertama yang menjadi sasaran intervensi Amerika Serikat. Tepat 36 tahun sebelumnya, Washington melancarkan operasi militer yang berujung pada tergulingnya Presiden Panama, Manuel Noriega.

Sebelum menjadi presiden, Noriega merupakan sekutu dekat Amerika Serikat. Ia bahkan kerap disebut sebagai salah satu agen CIA di Amerika Latin. Setelah pemimpin Panama, Omar Torrijos, tewas dalam kecelakaan pesawat pada 1963, Noriega mengambil alih kendali kekuasaan.

Kepemimpinan Noriega pada awalnya mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat. Ia menerima ratusan ribu dolar dari pemerintah AS untuk membantu memerangi perdagangan narkoba.

Namun hubungan mesra itu tidak berlangsung selamanya. Pemerintah Amerika Serikat kemudian menuduh Noriega menerima suap dan terlibat dalam perdagangan narkoba yang menyasar wilayah AS.

Presiden Amerika Serikat saat itu, George H. W. Bush, memerintahkan invasi militer ke Panama pada akhir 1989. Sekitar 24 ribu tentara dikerahkan untuk menggulingkan pemerintahan Noriega. Kendati menelan korban 23 tentara AS dan melukai ratusan lainnya, operasi tersebut dinyatakan berhasil. Pada 3 Januari 1990, setelah sempat bersembunyi di Kedutaan Besar Vatikan, Noriega akhirnya ditangkap.

Noriega kemudian diadili dan dihukum atas kasus perdagangan narkoba, dan menjalani hukuman 20 tahun penjara di Amerika Serikat. Pada 2010 ia diekstradisi ke Prancis untuk menjalani hukuman tujuh tahun karena kasus pencucian uang. Setahun kemudian, ia dipulangkan ke Panama untuk menyelesaikan hukuman 60 tahun atas kasus pembunuhan, korupsi, dan penggelapan selama rezim militernya.

Namun Noriega tidak sempat menuntaskan seluruh hukuman tersebut. Ia meninggal dunia pada 2017, setelah menjalani operasi pengangkatan tumor otak. (*)

Tombol Google News

Tags:

Nicolás Maduro Venezuela Presiden Venezuela Manuel Noriega Panama