KETIK, JAKARTA – Sebuah kejutan mengguncang percaturan politik dunia pada awal tahun 2026. Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Maduro ditangkap dengan tuduhan keterlibatan dalam perdagangan narkotika dan terorisme.
Namun, tidak sedikit yang menduga bahwa langkah ini merupakan upaya Washington untuk membungkam tokoh-tokoh yang selama ini kritis terhadap kebijakan Amerika.
Lalu, siapakah sebenarnya Nicolas Maduro, sosok yang dikenal vokal menentang Amerika Serikat dan oleh kritikusnya disebut sebagai salah satu diktator terburuk dalam sejarah Venezuela?
Nicolas Maduro lahir di Caracas pada 23 November 1962, dalam keluarga kelas pekerja yang berhaluan kiri. Ayahnya, yang juga bernama Nicolas, merupakan tokoh buruh yang dikenal aktif memperjuangkan hak pekerja. Sementara, ibunya, Teresa, berdarah Kolombia.
Kecintaan Maduro pada politik sudah muncul sejak remaja. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Liceo José Ávalos di El Valle, ia aktif dalam serikat pelajar.
Setelah lulus sekolah, Maduro bekerja sebagai sopir bus di perusahaan Caracas Metro. Di tempat inilah ia mendirikan sebuah serikat buruh — sebuah langkah yang kemudian dilarang oleh manajemen perusahaan.
Pada usia 24 tahun, Maduro bersama rekan-rekan kirinya pergi ke Kuba untuk memperdalam pendidikan politik. Mereka belajar selama satu tahun di Escuela Nacional de Cuadros Julio Antonio Mella, sebuah lembaga pendidikan politik yang didirikan oleh Union of Young Communists.
Di Kuba, Maduro juga dipercaya oleh pemerintahan Fidel Castro sebagai agen, peran yang memperluas jaringan politiknya dan mempertemukannya dengan figur yang kelak menjadi mentor politiknya: Hugo Chávez.
Karier politik Maduro semakin menanjak ketika Hugo Chávez kembali terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 2006. Chávez kemudian menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri Venezuela, posisi yang dipegangnya selama beberapa tahun. Pada Oktober 2012, pasca pemilihan presiden, Maduro terpilih sebagai Wakil Presiden Venezuela, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemerintahan.
Setelah Chávez meninggal pada 5 Maret 2013, Maduro mengambil alih tugas dan wewenang sebagai presiden. Ia menunjuk Jorge Arreaza sebagai wakil presiden menggantikannya. Karena kematian Chávez terjadi di tengah masa jabatan, Konstitusi Venezuela mewajibkan pemilihan presiden baru dalam waktu 30 hari. Maduro pun secara aklamasi ditetapkan sebagai calon dari Partai Sosialis.
Namun, langkah ini penuh kontroversi. Banyak tokoh oposisi menilai bahwa Maduro telah melanggar sejumlah pasal dalam Konstitusi — termasuk Pasal 229, 231, dan 233 — karena mengambil alih kekuasaan eksekutif tanpa melibatkan ketua Majelis Nasional sesuai prosedur yang seharusnya. Tuduhan pelanggaran konstitusional ini menambah polarisasi politik di Venezuela.
Dalam beberapa tahun terakhir, Maduro menjadi salah satu figur yang paling dibidik oleh pemerintahan Amerika Serikat. Beragam tuduhan dilayangkan kepadanya, dan AS bahkan melakukan beberapa operasi rahasia untuk mencoba menangkapnya — termasuk upaya membujuk pilot pribadi Maduro, Bitner Villegas, untuk berkhianat. Namun, semua upaya itu selalu gagal.
Akhirnya, pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi terang-terangan. Pasukan khusus AS menangkap Maduro beserta istrinya, lalu menerbangkan mereka keluar dari wilayah Venezuela. (*)
