Puasa di Era Digital, Lebih Sulit Menahan Lapar atau Menahan Jempol?

22 Februari 2026 00:15 22 Feb 2026 00:15

Thumbnail Puasa di Era Digital, Lebih Sulit Menahan Lapar atau Menahan Jempol?

Ilustrasi akses Media Sosial (Foto: Pinterest)

KETIK, SURABAYA – Puasa Ramadhan telah lama dipahami sebagai ibadah yang menuntut seseorang menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, di era digital seperti sekarang, tantangan puasa tidak lagi hanya sebatas menahan lapar dan haus. Sebaliknya, godaan modern yang hadir melalui layar smartphone sering kali menjadi ujian yang justru lebih sulit bagi banyak orang.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Dalam setiap bulan Ramadan, tren penggunaan internet dan media sosial justru meningkat, bukan menurun.

Dikutip dari Website unesa.ac.id yang terbit pada 21 Maret 2025, Putri Aisyiyah Rachma Dewi, dosen Prodi S-1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjelaskan, saat puasa, penggunaan internet dan media sosial cenderung meningkat, karena orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan.

"Kalau puasa bawaannya memang lemas dan orang malas bergerak atau mager. Apalagi siang, panas, orang malas aktivitas di luar. Tentu, scrolling media sosial menjadi pilihan untuk mengisi waktu," jelasnya

Ia menerangkan bahwa akses ke media sosial, video, dan berbagai layanan daring justru lebih tinggi selama berpuasa karena banyak orang menghabiskan waktu di dalam ruangan sambil menunggu waktu berbuka. Kebiasaan ini memiliki dampak positif maupun negatif dengan konten bermanfaat bisa memperkaya, namun konsumsi konten yang berlebihan berisiko menguras mental dan fokus ibadah.

Tantangan terbesar bukan hanya soal “menahan lapar”, tetapi soal menahan jempol dari dorongan untuk terus membuka aplikasi, scroll tanpa henti, memberikan komentar pedas, atau terlibat dalam perdebatan digital.

Namun di sisi lain, teknologi bukanlah musuh puasa. Ia bersifat netral bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Banyak umat Islam menggunakan aplikasi Al-Qur’an, pengingat waktu salat, kajian daring, serta video ceramah untuk memperdalam pemahaman agama.

Kajian-kajian yang disiarkan melalui platform digital memungkinkan ilmu menjangkau lebih luas, bahkan hingga ke pelosok yang sulit dijangkau secara fisik. Ini menunjukkan bahwa teknologi, bila digunakan dengan bijak, justru dapat menjadi sarana peningkat keberkahan ibadah.

Karena itu, tantangan puasa di era digital bukan hanya tantangan fisik, melainkan juga mental dan etis. Menahan lapar dan haus adalah ujian klasik yang telah dikenal sejak masa Rasulullah.

Akan tetapi, di zaman sekarang, menahan “jempol” dari godaan digital mengendalikan emosi saat membaca komentar provokatif, menahan diri untuk tidak membalas dengan kata-kata kasar, serta membatasi konsumsi konten yang tidak bermanfaat sering kali menjadi ujian yang lebih rumit.

Puasa di era digital pada akhirnya menuntut kesadaran baru: literasi spiritual sekaligus literasi digital. Bukan sekadar berapa lama kita mampu menahan lapar, tetapi sejauh mana kita mampu menjaga integritas diri, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan demikian, puasa tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi benar-benar menjadi proses pembentukan karakter yang utuh fisik yang terkendali, hati yang bersih, dan perilaku yang beretika, termasuk dalam setiap sentuhan di layar gawai kita. (*)

Tombol Google News

Tags:

media sosial Sosial Media puasa Lapar

Berita Lainnya oleh Maulidya Hanin Najahah