KETIK, SURABAYA – Di pinggiran Jalan Raya Bulang, Prambon, Sidoarjo, tercium aroma manis dan kenangan selama seperempat abad dari sebuah gerai sederhana. Klepon Restu Bulang bukan sekadar penjual jajanan tradisional, melainkan bagian dari ritual perjalanan warga Sidoarjo dan sekitarnya yang telah bertahan sejak 25 tahun lalu tanpa mengubah cita rasa aslinya.
Klepon jajanan tradisional khas Pulau Jawa, terbuat dari tepung ketan yang dibentuk bulat lonjong kecil, bewarna hijau alami dari daun suji atau pandan. Isi dalamnya tersimpan gula merah cair yang meleleh saat digigit, dilumuri kelapa parut putih yang segar hingga melekat sempurna.
Teksturnya kenyal, aromanya harum, dan rasanya manis pas kombinasi yang sulit ditandingi. Setiap gigitannya seolah membawa pulang nostalgia masa lalu yang hangat.
Jajanan ini dirintis oleh almarhumah Yatik pada tahun 2000, dan kini diteruskan oleh adiknya, Hari Iskandar, menjadi usaha keluarga. Walaupun kepemilikan beralih, resep dan cara pembuatannya tetap sama persis seperti era awal berdirinya.
Pemilik klepon restu dan karyawan sedang memproduksi adonan klepon. Desa Bulang Sidoarjo. Rabu, 12 Februari 2026. (Foto: Ilma Nurlaila/Ketik.com)
Kunci konsistensi rasa ada pada Siti Ubaidah, atau akrab disapa Ida, yang telah mengabdi di dapur Klepon Restu selama 20 tahun. "Saya ikut dari sekitar tahun 2004 sampai sekarang. Proses dan rasanya tidak pernah diubah," ujar Ida.
Menariknya, bahkan di masa paling sulit sekalipun saat pandemi melanda, Klepon Restu Bulang justru tak pernah sepi. Menurut Hari Iskandar, pesanan dari pelanggan maupun warga tetap lancar, bahkan lebih laris.
“Loh nggak sepi Mbak. Waktu covid malah laris. Banyak yang pesan dalam jumlah besar, sekali beli bisa lima sampai belasan kotak, buat tahlilan saudara atau keluarga yang berpulang karena covid atau sakit lainnya," kenang Hari.
Baginya, menjaga cita rasa warisan keluarga adalah harga mati. Di tengah maraknya kuliner kekinian yang datang dan pergi, Klepon Restu tetap teguh pada keasliannya. "Harapan kami, klepon ini tetap bisa dinikmati generasi mendatang," tuturnya.
Sementara itu, klepon dinilai tak hanya camilan, tapi sudah seperti kewajiban mampir dan beli untuk dimakan oleh keluarga di rumah . Salah seorang pelanggan, Syakira dari Surabaya, mengaku sengaja mampir ke gerai saat melintas di kawasan Bulang Sidoarjo.
"Rasanya memang beda dari yang lain, tekstur klepon lebih kenyal, rasanya enak dan gulanya lumer saat digigit. Saya sering beli beberapa kotak sebagai oleh-oleh keluarga sepulang main ke rumah teman," ucapnya.
"Biasanya saya beli satu kotak itu campur klepon, gempo, sama lupis. Favorit ibuku yang varian gempo. Terkadang beli dua kotak khusus gempo. Bahkan sering juga titip teman kalau ke Surabaya. Klepon Restu jadi favorit keluarga kalau aku main ke rumah teman," tambah dia.
Selain klepon, tersedia aneka jajanan tradisional lain seperti gempo, lupis, jongkong, hingga cenil. Harganya terjangkau, mulai Rp10.000 per kotak yang isinya sekitar 8–10 potong, tergantung jenisnya.
Gerai Klepon Restu, salah satu gerai yang berdiri seperempat abad di Kawasan Desa Bulang, Sidoarjo. Rabu, 12 Februari 2026. (Foto: Ilma Nurlaila/Ketik.com)
Di sepanjang Jalan Raya Desa Bulang, berjejer sejumlah toko klepon khas yang justru hidup rukun saling membantu jika ada yang kehabisan bahan, tanpa merasa bersaing. Semangat gotong royong inilah yang membuat suasana desa semakin akrab.
Lokasi Klepon Restu sangat strategis berada di pinggir kiri Jalan Raya Bulang setelah pertigaan, tepat di depan Apotek Farma. Gerainya yang sederhana dengan banner kuning dan terdapat etalase kaca mudah dikenali para pelintas.
Klepon Restu Bulang bukan cuma tentang jajanan, melainkan tentang warisan, kebersamaan dan ketulusan menjaga rasa tetap autentik. Termasuk sebagai salah satu kekayaan jajanan legendaris yang dimiliki Indonesia. (*)
