Di era modernisasi seperti saat ini, tidak ada organisasi besar yang bisa bertahan hanya dengan simbol dan nostalgia. Kepemimpinan PBNU sebagai pusat kendali Nahdlatul Ulama pun tidak boleh kebal dari kritik.
Ketika efektivitas kepemimpinan mulai dipertanyakan secara luas—baik oleh kader, pengurus daerah, maupun warga nahdliyin—maka diam bukanlah pilihan. Justru di titik inilah keberanian untuk bermuktamar menjadi ujian kedewasaan organisasi.
Kepemimpinan yang Kehilangan Daya Gedor
Harus diakui secara jujur, ada kesan kuat yang dirasakan oleh masyarakat bahwa kepemimpinan PBNU saat ini telah kehilangan daya dorong strategis. Respons terhadap persoalan umat terasa lambat, arah kebijakan tidak selalu jelas, dan komunikasi organisasi seringkali tidak menyentuh basis jamaah.
NU adalah organisasi yang hidup dari denyut bawah, bukan sekadar keputusan elite. Ketika denyut itu melemah, maka yang dibutuhkan bukan pembenaran—melainkan evaluasi total.
Muktamar Bukan Ancaman, tapi Jalan Kehormatan
Sebagian mungkin menganggap percepatan Muktamar NU sebagai bentuk ketidakpercayaan. Pandangan ini keliru. Dalam tradisi NU, muktamar justru adalah mekanisme paling sah, paling elegan, dan paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan internal.
Menunda muktamar sama saja memperpanjang ketidakpastian. Sementara menyegerakannya adalah bentuk tanggung jawab moral kepada jamaah.
Mengembalikan Marwah Organisasi
Keagungan marwah NU tidak hanya ditentukan oleh sejarah besarnya, tetapi oleh kualitas kepemimpinan hari ini dan masa depan. Ketika publik sudah mulai meragukan efektivitas pengurus pusatnya , ketika issue tidak sedap merebak dimana mana, maka risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan umat.
Muktamar yang bermartabat akan menjadi momentum untuk:
- Mengoreksi arah organisasi
- Memperbarui mandat kepemimpinan
- Menegaskan kembali posisi NU di tengah dinamika bangsa
- Mengembalikan kepercayaan masyarakat
Tanpa itu, NU berpotensi berjalan limbung tanpa kompas yang jelas.
Momentum Menyelamatkan NU
Seruan untuk segera melaksanakan Muktamar NU bukanlah bentuk perlawanan kepada kepengurusan yang ada, melainkan panggilan untuk melakukan penyelamatan. Ini bukan soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana NU tetap relevan, kuat, dan dipercaya oleh umat.
Penutup: Bermartabat dalam Mengoreksi Diri
Organisasi besar tidak akan runtuh karena kritik, tetapi karena menolak untuk dikoreksi. PBNU memiliki kesempatan untuk menunjukkan kedewasaan itu: membuka ruang evaluasi melalui muktamar yang sah, transparan, dan bermartabat.
Jika kepemimpinan hari ini memang masih kuat, muktamar akan mengukuhkannya. Namun jika tidak, maka muktamar adalah jalan terhormat untuk melakukan perubahan dan perbaikan dari dalam.
NU terlalu besar untuk dipertaruhkan oleh ketidakjelasan. Sudah saatnya kita segera kembali kepada mekanisme tertinggi: Muktamar!
*) Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
