Modernisasi Taktik Ala John Herdman Beri Warna Baru Sepak Bola Indonesia

28 Maret 2026 09:20 28 Mar 2026 09:20

Thumbnail Modernisasi Taktik Ala John Herdman Beri Warna Baru Sepak Bola Indonesia

Oleh: Agus Riyanto*

Timnas Indonesia sukses melangkah ke babak final FIFA Series 2026 setelah menghajar Saint Kitts and Nevis 4-0. Kemenangan ini sudah diprediksi sejak awal. Indonesia unggul segalanya. Mulai dari peringkat FIFA hingga kualitas materi pemain. Tapi jangan salah, dibalik itu ada aktor intelektual yang punya andil besar merubah taktik dan cara bermain Jay Idzes dan koleganya. Dia adalah John Herdman. Pelatih berkebangsaan Inggris.

Meskipun tidak sementereng dua pelatih terdahulunya, Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert terkait nilai kontrak, namun Herdman seakan memberi warna baru sepak bola Indonesia. Taktik yang diterapkan kepada anak asuhnya seakan tanpa celah dan berjalan mendekati sempurna. Ini bisa dilihat pada pertandingan semalam. Akurasi passing nyaris tanpa kesalahan dan  positioning para pemain cukup bagus. Tak terkecuali komunikasi antar pemain juga berjalan baik.

Tak hanya itu, para pemain Timnas cukup rileks dalam menjalankan instruksi sang pelatih. Seakan begitu menikmati atas arahannya. Tidak ada saling menyalahkan antar pemain. Padahal di 10 menit awal tim tamu cukup agresif dalam melakukan serangan dengan mengandalkan kecepatan kedua sayapnya. Ketenangan para pemain Timnas memang menjadi pembeda. Pun demikian tidak terlihat wajah marah sang pelatih dipinggir lapangan saat pertandingan berlangsung.

Mungkin juga ada yang menyebut jika kemenangan telak atas Saint Kitts and Nevis dianggap karena  lawannya tidak sepadan. Tapi kita tidak hanya melihat soal hasil pertandingan. Jauh lebih penting soal taktik  yang digunakan Heardman. Bermain tanpa play maker dan meminimalisir long pass. Semua pemain punya tugas tidak hanya di areanya. Namun, diberi kebebasan. Terbukti dua center bek Risky Ridho, Elkan Balkot, dan Jordy Amat sering naik membantu penyerangan.

Satu bukti permainan kolektif ala Heardman adalah dua gol awal yang dicetak oleh Beckham Putra yang notabenenya bukan seorang striker. Meskipun dua gol lainnya lahir dari striker Oke Romeny dan Mauro  Zijlstra. Selain itu, dua pemain sayap juga sering membantu pertahanan saat terjadi counter attack. Dia adalah Donny Tri Pamungkas, yang bermain cukup konsisten selama 90 menit lebih bersama Risky Ridho.

Paling tampak dalam perubahan taktik dari dua pelatih sebelumnya adalah para pemain berani menguasai bola lebih lama, lebih sabar dan menjaga jarak antar tidak terlalu jauh. Sehingga bisa mempersempit area lapangan sekaligus menyulitkan lawan untuk melakukan passing cepat. Taktik ini. sedikit ada kemiripan dengan taktik Patrick Kluivert. Yang membedakan adalah jarak antar saat melakukan one two touch. Kecuali dua pemain depan yang memang diplot untuk menerima track ball umpan kejut.

Seperti gol perdana Beckham yang mendapat umpan kejut dari Ole Romeny. Di mana lawan menduga jika Ole akan memainkan bola di lapangan tengah. Tapi yang terjadi berbeda. Umpan tidak berikan kepada striker, tapi kepada pemain yang lebih siap dan punya peluang. Termasuk gol ketiga buah dari umpan kejut Ivan Jenner ke Ole.

Heardman memang sosok pelatih brilian yang cukup rajin memantau pertandingan di BRI Liga Super. Hasilnya cukup lumayan dan memang tepat, yakni memanggil Donny Tri Pamungkas. Anak muda yang dipercaya bermain penuh dan tak tergantikan. Padahal jarang pemain muda langsung mendapat tempat sebagai pemain inti. Paling mengejutkan, rasa percaya diri para pemain debutan cukup tinggi. Selain tidak nervous harus bersanding dengan pemain-pemain keturunan, mentalitasnya cukup terjaga. Bahkan dipercaya sebagai juru tembak tendang sudut.

Tanpa bermaksud melebihkan sang juru taktik, namun memang ada suasana baru di Timnas yang seakan menjadi motivasi para pemain untuk menunjukan segala kemampuannya. Beckham yang diragukan publik bisa bersaing di Timnas menjelma menjadi sosok pemain yang cukup diperhitungkan lawan, termasuk dengan dua golnya. Tak hanya itu, permainan keras juga ditujukan kepadanya.

Pasukan Garuda baru akan mendapatkan lawan sepadan di babak final melawan Bulgaria. Negara berperingkat 84 dunia ini akan menjadi jalan terjal. Selain mengandalkan kekuatan fisik ala pemain Eropa Timur, para pemain Bulgaria juga memiliki skill lumayan bagus. Banyak pemainnya yang bermain di Liga Eropa. Artinya, kejelian Heardman akan diuji dalam meramu taktik. Termasuk tetap bermain tanpa play maker dan mempertahankan pola yang sama saat lawan Saint Kitts and Nevis atau punya strategi lain.

Akankah ada eksperimen baru dengan menggunakan taktik kick and rush ala Inggris! Kita tinggal menunggu saja. Intinya, menjadi juara pada FIFA Series 2026 akan menjadi jalan mulus untuk mendongkrak peringkat FIFA. Partai final adalah partai knock out, menang juara kalah runner up. Semoga Heardman bisa menjadi penyelamat sepak bola Indonesia dengan program besarnya, naturalisasi pemain keturunan Eropa. 

*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

Timnas Indonesia PSSI FIFA Series John Herdman Artikel opini opini Agus Riyanto saint Kitts and Nevis