KETIK, BLITAR – Harapan sejumlah tenaga kebersihan untuk memulai awal tahun dengan pekerjaan justru berubah menjadi kekecewaan. Mereka yang telah dinyatakan lolos seleksi dan mulai bekerja di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar sejak Kamis 1 Januari 2025, mendadak harus menerima kenyataan pahit: status kelulusan mereka dibatalkan.
Keputusan tersebut disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia melalui surat resmi pengumuman Nomor : 002/PNG/SBI/I/2026, perusahaan penyedia jasa rekrutmen tenaga kebersihan di rumah sakit milik pemerintah daerah itu. Alasan yang disampaikan singkat kendala internal perusahaan tanpa penjelasan rinci yang mampu menjawab kegelisahan para pekerja.
Akibatnya, seluruh tenaga kebersihan yang telah bekerja, termasuk yang menjalani shift kedua di hari pertama kerja, dinyatakan tidak lagi dipekerjakan. Meski perusahaan menjanjikan pembayaran upah sesuai hari kerja, keputusan itu tetap menyisakan luka.
“Kami sudah bekerja, sudah mengikuti semua prosedur. Tapi tiba-tiba semuanya dihentikan. Rasanya seperti tidak dianggap manusia,” ujar salah satu tenaga kebersihan kepada Ketik.com.
Para pekerja mengaku tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga menanggung kerugian finansial. Untuk memenuhi persyaratan seleksi, mereka harus mengeluarkan biaya pribadi mulai dari pengurusan SKCK, pas foto, hingga tes kesehatan.
“Buat kami, itu bukan biaya kecil. Semua kami siapkan dengan harapan bisa bekerja. Tapi akhirnya dibatalkan begitu saja,” tutur seorang pekerja lain.
Informasi yang dihimpun Ketik.com menyebutkan, kisruh rekrutmen ini berujung pada keputusan PT Sasana Bersaudara Indonesia untuk menghentikan kerja sama dengan RSUD Mardi Waluyo, meski kontrak baru efektif berjalan per 1 Januari 2026.
Sumber internal menyebut, keputusan itu diambil setelah muncul dugaan adanya tekanan dan intervensi dalam proses rekrutmen, termasuk permintaan agar meloloskan calon tenaga kerja yang tidak memenuhi standar seleksi.
“Kalau rekrutmen sudah tidak murni, risikonya besar. Perusahaan memilih mundur daripada reputasinya rusak,” ungkap sumber tersebut.
Sumber yang sama juga menyebut adanya aroma politik dalam kisruh ini.
“Patut diduga ada orang dekat Wali Kota yang membawa orang. Karena tidak lolos seleksi, lalu dimasukkan lewat jalur belakang. Kalau dibiarkan, perusahaan yang kena getahnya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, beredar pula informasi bahwa sejumlah tenaga kebersihan tertentu diduga telah bekerja lebih awal sejak Desember 2025 menggunakan uang pelicin, sebelum kontrak resmi dimulai, dan tidak melalui mekanisme seleksi yang sama.
Plt Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK, mengaku terkejut dengan situasi yang terjadi. Ia menyatakan pihak rumah sakit tidak mengetahui detail persoalan internal perusahaan rekanan tersebut.
“Kami hanya menerima informasi ada kesalahan teknis dari pihak PT. Terus terang, kami juga dibuat bingung,” ujarnya saat dikonfirmasi Ketik pada Jumat 2 Januari 2025.
Menurut dr. Bernard, pihak rumah sakit sempat melakukan pembekalan kepada tenaga kebersihan yang dinyatakan lolos seleksi.
“Sudah kami briefing terkait tugas-tugas mereka. Tapi kemudian justru diganti oleh pihak PT,” katanya.
Ia menegaskan, tanggung jawab rekrutmen sepenuhnya berada di tangan perusahaan penyedia jasa.
“Kami sempat menegur pihak PT. Kalau memang ada masalah di proses rekrutmen, itu ranah PT. Rumah sakit justru ikut terdampak,” tegasnya.
Hingga berita ini ditulis, PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya konfirmasi Ketik.com melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum membuahkan hasil.
Kisruh ini kembali membuka pertanyaan besar soal transparansi dan tata kelola rekrutmen di institusi layanan publik. Di tengah tarik-menarik kepentingan, para pencari kerja yang seharusnya dilindungi justru menjadi pihak paling rentan.
Ketik.com akan terus menelusuri perkembangan kasus ini dan meminta klarifikasi dari pihak-pihak terkait. (*)
