KETIK, BATU – Bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk kembali merajut kebersamaan bersama keluarga.
Selain meningkatkan kualitas ibadah, momentum ini juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan emosional antara orang tua, pasangan, hingga anak-anak dalam satu keluarga.
Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H, mengatakan Ramadan dan Idulfitri menghadirkan banyak momentum kebersamaan yang tidak selalu ditemukan pada waktu-waktu lain.
“Banyak momen berharga yang kita dapatkan selama Ramadan dan Idulfitri, terutama bersama keluarga. Misalnya saat salat Idulfitri, tradisi saling memaafkan, sungkeman kepada orang tua, hingga bersilaturahmi dengan keluarga besar,” ujarnya, Sabtu, 14 Maret 2026.
Menurutnya, suasana tersebut terasa semakin bermakna bagi para perantau yang selama ini harus bekerja jauh dari keluarga. Ramadan dan Idulfitri menjadi kesempatan langka untuk kembali berkumpul dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.
“Biasanya para perantau makan sendiri atau bersama rekan kerja. Tetapi ketika Ramadan dan Idulfitri, mereka bisa kembali berkumpul bersama keluarga. Ada suami, istri, dan anak-anak. Inilah momentum yang sangat berharga untuk mempererat kebersamaan,” katanya.
Ia menambahkan, kebersamaan keluarga selama Ramadan juga sering menghadirkan kenangan yang menghangatkan. Misalnya ketika orang tua dahulu membangunkan anak untuk sahur, lalu tradisi itu kini dilanjutkan kepada generasi berikutnya.
“Kadang kita teringat dulu ketika orang tua membangunkan kita untuk sahur. Sekarang kita yang membangunkan anak-anak. Bahkan saat menyiapkan hidangan, suami, istri, dan anak-anak bisa saling membantu. Ada pula yang memanfaatkan waktu tersebut untuk beribadah bersama,” jelasnya.
Menurut Miftahul Huda, kebersamaan semacam ini jarang ditemukan di luar Ramadan dan Idulfitri. Karena itu, momentum tersebut perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga.
“Ketika keluarga berkumpul, kita bisa bercerita, saling memotivasi, dan berbagi pengalaman hidup. Momen seperti ini sangat produktif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak,” tuturnya.
Selain itu, keluarga biasanya juga memiliki berbagai rencana bersama selama Idulfitri, seperti menentukan lokasi salat Id, bersilaturahmi ke rumah kerabat, hingga merencanakan aktivitas selama masa libur Lebaran.
“Dalam suasana seperti itu, anggota keluarga saling memberikan dukungan dan motivasi dalam kebaikan. Ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan antaranggota keluarga,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebiasaan baik yang terbentuk selama Ramadan agar tetap berlanjut setelah bulan suci berakhir.
“Sering kali kebersamaan hanya terasa selama Ramadan, tetapi setelah itu kembali seperti semula karena kesibukan masing-masing. Padahal nilai kebersamaan itu perlu terus dirawat,” ujarnya.
Selain memperkuat hubungan keluarga, Ramadan juga menjadi momentum yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sosial, terutama kepada anak-anak.
Melalui kegiatan berbagi dan bersedekah, anak-anak dapat dilatih untuk memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat sekitar.
“Momentum ini bagus untuk melatih anak agar memiliki kepekaan sosial. Dengan begitu mereka tidak hanya cerdas secara spiritual, tetapi juga peka secara sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Ramadan juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan refleksi diri bersama keluarga.
“Ramadan adalah bulan bermunajat. Kita bisa berdoa bersama keluarga, melakukan muhasabah, memohon ampun kepada Allah, serta memperbaiki hubungan dengan orang tua dan sesama,” katanya.
Miftahul Huda menilai kebersamaan dalam keluarga memiliki peran penting dalam membangun keharmonisan. Melalui momen makan bersama, salat berjamaah, dan aktivitas keluarga lainnya, hubungan antaranggota keluarga dapat terjalin lebih erat.
“Kebersamaan antara orang tua, suami, istri, dan anak perlu dijaga dan dirawat. Dengan kebersamaan itu akan tumbuh rasa saling menghormati, saling menghargai, dan saling mendukung di dalam keluarga,” ujarnya.
Ia juga menilai momen Ramadan dan Idulfitri dapat menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk menyelaraskan berbagai harapan dan impian bersama.
“Setiap anggota keluarga tentu memiliki impian masing-masing. Orang tua, suami, istri, maupun anak-anak bisa saja memiliki keinginan yang berbeda. Namun melalui komunikasi dan doa bersama, semua itu dapat diselaraskan,” jelasnya.
Menurutnya, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga juga merupakan bentuk rezeki yang patut disyukuri.
“Rezeki tidak selalu berbentuk materi. Kebersamaan, kesehatan, dan kebahagiaan dalam keluarga juga merupakan rezeki yang sangat berharga,” pungkasnya. (*)
