Pasca Ramadan Jadi Ujian Konsistensi Iman, Wakil Dekan UIN Malang Ingatkan Jaga Spirit Ibadah

21 Maret 2026 06:00 21 Mar 2026 06:00

Thumbnail Pasca Ramadan Jadi Ujian Konsistensi Iman, Wakil Dekan UIN Malang Ingatkan Jaga Spirit Ibadah

Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H, Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (Foto: UIN Malang)

KETIK, BATU – Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H, mengingatkan umat Muslim bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah bulan suci Ramadan berakhir.

Momentum Ramadan dinilai sebagai proses pendidikan spiritual yang seharusnya membentuk karakter dan konsistensi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, selama Ramadan umat Islam menjalani berbagai latihan spiritual yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh dimensi moral dan sosial.

Aktivitas ibadah meningkat, masjid lebih ramai, tilawah Al-Qur’an semakin intens, serta kepedulian sosial melalui sedekah dan kegiatan berbagi juga semakin kuat.

“Ramadan seakan menjadi ruang pendidikan rohani yang intens bagi setiap Muslim. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk memperbaiki diri, mengendalikan emosi, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia,” ujarnya, Sabtu, 14 Maret 2026.

Namun demikian, ia menilai muncul pertanyaan penting ketika bulan suci tersebut berakhir, yakni apakah semangat ibadah dan kebaikan yang dibangun selama Ramadan dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengakui banyak orang merasakan perubahan positif selama Ramadan. Pola ibadah menjadi lebih teratur, waktu lebih disiplin, dan semangat untuk berbuat baik meningkat.

Meski begitu, tidak sedikit pula yang merasakan semangat tersebut perlahan memudar setelah Ramadan berlalu.

“Masjid yang sebelumnya ramai kembali lengang, tilawah Al-Qur’an yang rutin dilakukan menjadi jarang, dan kebiasaan berbagi tidak lagi seintens sebelumnya. Di sinilah sebenarnya makna Ramadan diuji,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar peristiwa tahunan yang berlalu tanpa bekas, melainkan sebuah proses pembentukan karakter. 

Dalam perspektif spiritual, Ramadan dapat dipahami sebagai madrasah kehidupan yang melatih manusia untuk mengendalikan diri, memperkuat kesabaran, serta menumbuhkan empati sosial.

Ia juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yang menjelaskan tujuan utama ibadah puasa.

“Dalam Al-Qur’an disebutkan: ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’. Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk pribadi yang bertakwa,” jelasnya.

Menurutnya, ketakwaan tidak seharusnya hanya hadir selama satu bulan Ramadan, melainkan menjadi sikap hidup yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan seorang Muslim.

“Konsistensi menjadi kata kunci. Dalam tradisi Islam disebutkan bahwa amal yang paling dicintai adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun kecil. Perubahan sejati tidak selalu lahir dari tindakan besar, tetapi dari kebiasaan baik yang dijaga secara berkelanjutan,” tuturnya.

Ia menambahkan, kebiasaan baik yang terbentuk selama Ramadan seharusnya tetap dijaga setelah bulan suci berakhir. Misalnya, kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari dapat terus dilanjutkan meski tidak sebanyak selama Ramadan. Demikian pula dengan sedekah, salat berjamaah, menjaga lisan, serta mengendalikan emosi.

“Jika selama Ramadan kita rajin bersedekah, kebiasaan itu dapat dilanjutkan dalam bentuk kepedulian sosial yang lebih terstruktur. Nilai-nilai itulah yang seharusnya tetap hidup setelah Ramadan,” katanya.

Selain memperkuat dimensi spiritual, Ramadan juga dinilai memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat. Pengalaman menahan lapar dan dahaga membuat seseorang lebih mudah merasakan penderitaan orang lain.

“Dari pengalaman itu tumbuh empati dan semangat berbagi. Tradisi berbagi takjil, zakat, dan berbagai kegiatan sosial selama Ramadan menjadi bukti bahwa bulan suci ini mampu menumbuhkan solidaritas di tengah masyarakat,” jelasnya.

Namun ia mengingatkan bahwa semangat tersebut sering kali hanya muncul secara musiman. Setelah Ramadan berlalu, perhatian terhadap persoalan sosial kerap menurun.

“Padahal justru setelah Ramadan, semangat berbagi itu seharusnya menjadi kebiasaan yang terus dirawat,” ungkapnya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, menjaga konsistensi memang bukan perkara mudah. Berbagai tuntutan pekerjaan, tekanan ekonomi, serta distraksi kehidupan sering kali membuat seseorang kembali pada kebiasaan lama.

“Namun di situlah letak nilai perjuangan dalam kehidupan spiritual. Konsistensi bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang kesungguhan untuk terus berusaha menjadi lebih baik,” katanya.

Ia menilai keberhasilan Ramadan dapat dilihat dari perubahan sikap setelah bulan suci berakhir, baik dalam aspek ibadah maupun dalam perilaku sosial.

“Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih rajin beribadah dan lebih baik akhlaknya kepada orang lain, maka itu menandakan bahwa ibadah Ramadan benar-benar memberi dampak nyata pada kepribadiannya,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa Ramadan seharusnya dipahami sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, bukan sekadar momen tahunan yang berlalu begitu saja.

“Ramadan pada hakikatnya adalah titik awal, bukan garis akhir. Ia memberikan momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan refleksi diri dan memperbaiki arah hidup. Tugas kita setelah Ramadan adalah menjaga api kebaikan itu agar tidak padam,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Konsistensi Beribadah Idul Fitri 1447 H Lebaran 2026 Fakultas Syariah UIN Malang