KETIK, MALANG – Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Kayutangan turut berpartisipasi dengan menyediakan halamannya untuk pelaksanaan salat Idulfitri berjemaah yang digelar oleh Masjid Agung Jami' Kota Malang pada Sabtu, 21 Maret 2026. Momen ini menjadi gambaran indahnya toleransi antarumat beragama di Kota Malang.
Di tengah udara sejuk Kota Malang, pelaksanaan salat Idulfitri berjemaah di Masjid Agung Jami' berlangsung lancar dan khidmat dengan suasana penuh kehangatan.
Puluhan jemaah tampak menempati halaman Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Kayutangan sebagai lokasi tambahan untuk melaksanakan salat Idulfitri berjemaah.
Salat Idulfitri memang menjadi momen berkumpulnya umat Muslim dari berbagai wilayah di Kota Malang di satu titik, yakni Masjid Agung Jami'. Tak heran jika jumlah jemaah membludak hingga kawasan Kayutangan.
Uniknya, pihak gereja dengan sukarela menyediakan halaman untuk digunakan oleh umat Muslim dalam melaksanakan ibadah salat Id berjemaah.
Jemaah Masjid Agung Jami' Kota Malang memenuhi halaman Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Kayutangan untuk melaksanakan salat Idulfitri berjamaah pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Pastur Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan, Henri Kus Suwaji, mengungkapkan bahwa seluruh pihak gereja merasa senang dapat berkontribusi menyediakan tempat bagi umat Muslim.
Menurutnya, agama seharusnya bukan menjadi pemecah belah, melainkan perekat antarumat beragama.
"Tentu kami merasa senang. Dengan cara demikian, agama bukan menjadi pemecah belah, tetapi justru menjadi perekat. Tradisi ini bahkan sudah ada sejak sekitar tahun 1993," ungkapnya.
Tak hanya menyediakan tempat, pihak gereja juga menyiapkan fasilitas kesehatan bagi jemaah yang melaksanakan salat di halaman gereja.
"Kami tidak hanya mempersilakan, tetapi juga mempersiapkan tempat. Jika ada yang pingsan atau sakit, kami telah menyiapkan dokter. Kami juga menyediakan kursi roda agar teman-teman bisa merasa aman dan nyaman," tutur Henri.
Dalam momen Idulfitri ini, ia juga menyampaikan pesan bahwa perbedaan dapat menumbuhkan persahabatan. Menurutnya, negara akan tetap utuh jika antarumat beragama saling menguatkan.
"Kenyataan seperti ini menunjukkan bahwa kita bisa bersama meski memiliki perbedaan. Kita bisa bersahabat meski berbeda agama. Inilah yang kita kembangkan di Indonesia. Negara akan utuh jika agama saling menguatkan, bukan memecah belah," ujarnya. (*)
