KETIK, JAKARTA – Di tengah derasnya kritik publik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan lima pengusaha besar nasional di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Selasa malam, 10 Februari 2026.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyebut pertemuan itu berlangsung cukup panjang dan intens. “Pertemuan tersebut berlangsung lebih dari 4,5 jam, dimulai sejak pukul 19.00 hingga sekitar 23.30 WIB,” ujar Teddy seperti dikutip dari laman resmi istana Kepresidenan, Kamis, 12 Februari 2026.
Pertemuan yang digelar secara tertutup itu memantik perhatian publik. Di saat pemerintah menghadapi sorotan terkait sejumlah kebijakan strategis, Presiden justru memilih berdialog panjang dengan para pelaku usaha besar. Pemerintah menyebut forum tersebut sebagai upaya memperkuat sinergi pembangunan nasional.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo kembali menekankan konsep Indonesia Incorporated. Pemerintah menilai kolaborasi erat antara negara dan dunia usaha menjadi kunci untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Di momen itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya semangat Indonesia Incorporated, yang berarti bahwa kolaborasi erat seluruh sektor, yakni antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan ekonomi,” ungkap Seskab Teddy.
Para pengusaha yang hadir menyatakan dukungan terhadap agenda pemerintahan. Mereka berkomitmen terlibat dalam berbagai sektor prioritas yang dinilai strategis.
“Para pengusaha yang hadir senada seirama menyatakan komitmen solidnya untuk mendukung visi misi Pemerintah dalam sektor paling strategis yaitu pemenuhan makan bergizi, sekolah dan pendidikan tinggi, kesehatan, rumah subsidi, koperasi dan kampung nelayan serta kedaulatan pangan dan energi,” tulis Seskab Teddy.
Presiden juga mendorong dunia usaha mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lapangan kerja, khususnya di sektor riil. Pemerintah berharap langkah itu mampu memperkuat industri nasional sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM.
“Khususnya di sektor riil, guna mendorong pengembangan industri serta penguatan UMKM,” jelas Seskab Teddy.
Meski demikian, pertemuan tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah publik: sejauh mana keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha kecil dan masyarakat luas akan tetap terjaga di tengah intensnya komunikasi dengan kelompok konglomerat. Pemerintah menegaskan kolaborasi strategis ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
