KETIK, PACITAN – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pacitan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi Dinas Kesehatan (Dinkes).
Kelompok laki-laki suka laki-laki (LSL) tercatat menjadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, Nur Farida, membenarkan hal tersebut.
Menurutnya, kesimpulan itu diperoleh dari hasil skrining terhadap individu yang datang memeriksakan diri atau yang sudah menunjukkan gejala.
"Kalau kami kenapa bisa menyatakan penyumbang terbesar HIV/AIDS dari LSL itu karena lewat pemeriksaan dan anamnesa kepada seseorang yang memang ada gejala, atau orang yang memang memeriksakan diri," kata Nur Farida, Kamis, 15 Januari 2025.
Meski demikian, ia mengakui bahwa data tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Pasalnya, pendekatan yang dilakukan selama ini belum menyentuh komunitas LSL maupun LGBT secara langsung.
Ia menyebutkan, sebagian besar data yang ada saat ini berasal dari individu, bukan hasil skrining berbasis komunitas.
"Saat ini kita belum mampu masuk ke kelompok mereka atau komunitas. Mereka sangat tertutup," ungkapnya.
Karena itu, Dinkes Pacitan berharap dapat membangun komunikasi dan menjalin pendekatan yang lebih terbuka dengan komunitas LGBT.
Langkah tersebut dinilai penting agar upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS bisa dilakukan secara lebih menyeluruh.
Nur Farida menyampaikan, keterbukaan komunitas menjadi kunci dalam pelaksanaan skrining HIV/AIDS. Tanpa adanya kepercayaan dan komunikasi dua arah, upaya deteksi dini akan sulit dilakukan.
"Harapannya kalau memang bisa masuk ke komunitas mereka dan mereka mau terbuka, ya kami akan berusaha untuk mengskriningnya. Tapi masalahnya mereka tidak terbuka dan menutup diri," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa skrining dini bukan semata pendataan, melainkan langkah awal untuk memutus mata rantai penularan dan melindungi kelompok rentan lainnya.
Berdasarkan data Dinkes Pacitan, hingga Kamis, 15 Januari 2025, total kasus HIV/AIDS tercatat sebanyak 26 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Angka tersebut dinilai masih berpeluang ditekan jika ke depan skrining mampu menjangkau kelompok rentan secara lebih luas, termasuk komunitas LGBT, melalui pendekatan yang komunikatif dan inklusif.(*)
