KETIK, SURABAYA – Ajang bergengsi Expo Expose SMK Jawa Timur tahun ini menjadi panggung pembuktian bagi inovator muda. Salah satunya dari para pelajar SMKN 2 Malang yang telah menciptakan karya luar biasa.
Melalui tangan tangan para siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), sebuah robot mobil berbasis Internet of Things (IoT) berhasil dikembangkan dan mencuri perhatian para pengunjung pameran.
Alicia Sebastika Nakari, anggota tim pengembang dari SMK 2 Malang, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan hasil integrasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang dirancang untuk memenuhi tantangan teknologi digital masa depan.
Sejumlah perangkat mikrokontroler dan sensor suhu rakitan siswa SMKN 2 Malang (Foto: Nadifah Meidina/Ketik.com)
"Kita mengembangkan robot yang bisa berjalan seperti mobil," terang Alicia saat ditemui di lokasi pameran.
Berbeda dengan robot konvensional yang mengandalkan remote control fisik, karya siswa SMKN 2 Malang ini menggunakan sistem kendali berbasis web. Pengguna cukup mengakses halaman web yang telah dirancang secara mandiri melalui smartphone untuk menggerakkan robot secara real-time.
Alicia menekankan bahwa inovasi ini memberikan fleksibilitas lebih bagi pengguna. "Kontrolnya tidak pakai remote, tapi sudah pakai web. Kami buat web-nya sendiri, jadi mengontrolnya bisa langsung lewat HP," tambahnya.
Secara teknis, kecanggihan robot ini bertumpu pada penggunaan Arduino Uno yang bertindak sebagai otak pengendali utama sistem, yang dikolaborasikan dengan modul WiFi ESP8266 untuk menciptakan koneksi nirkabel.
Tak hanya perangkat keras, tim juga membangun sistem kendalinya dengan mengombinasikan bahasa pemrograman HTML, PHP, hingga JavaScript (JS) agar robot dapat merespons perintah dengan presisi.
Proses pengerjaan alat ini memakan waktu sekitar dua minggu. Alicia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pembuatan robot ini bukan terletak pada perakitan fisik, melainkan pada penyusunan logika pemrograman yang cukup kompleks.
Ia mengungkapkan bahwa timnya sempat kesulitan saat masuk ke tahap coding. "Bagi kami, bahasa pemrograman JavaScript dan PHP adalah yang paling sulit untuk dipelajari," aku Alicia jujur.
Meski demikian, seluruh proses riset hingga penyediaan komponen mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah. Alicia menyebutkan bahwa seluruh biaya didanai oleh sekolah, sehingga timnya hanya fokus pada proses pengerjaan.
Kehadiran produk inovasi SMK 2 Malang di ajang tingkat provinsi ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi di Jawa Timur telah berhasil mencetak lulusan yang kompeten di bidang teknologi mutakhir.
Inovasi robot IoT ini menegaskan bahwa siswa jurusan TKJ kini tidak hanya mahir dalam infrastruktur jaringan, tetapi juga mampu menciptakan solusi cerdas yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri masa kini. (*)
