KETIK, SURABAYA – Idulfitri merupakan momentum tahunan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari raya ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang sarat makna. Pada hari tersebut, umat Muslim merayakan kemenangan spiritual setelah menjalani berbagai bentuk pengendalian diri, mulai dari menahan lapar dan dahaga hingga menjaga perilaku serta ucapan.
Di berbagai daerah, suasana Idulfitri identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara. Jalanan kota besar pun kerap terlihat lebih lengang karena banyak masyarakat yang melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman. Tradisi ini semakin menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat tali silaturahmi.
Dalam ajaran Islam, Idulfitri dipahami sebagai hari kemenangan bagi umat Muslim. Kemenangan tersebut tidak hanya dimaknai secara lahiriah, tetapi juga sebagai keberhasilan dalam mengendalikan hawa nafsu selama Ramadan. Al-Qur’an menggambarkan kegembiraan ini dalam Surah Yunus ayat 58 yang menyatakan bahwa manusia dianjurkan bergembira atas karunia dan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala (SWT), karena hal tersebut lebih baik dari segala sesuatu yang dikumpulkan manusia di dunia.
Dikutip dari situs web Bincangmuslimah.com bahwa makna Idulfitri sendiri telah banyak dijelaskan oleh para ulama. Salah satu penjelasan menarik datang dari ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama asal Serang, Banten ini menjelaskan bahwa kata “Idulfitri” berkaitan erat dengan istilah fitrah. Dalam kajian tafsirnya, fitrah memiliki beberapa makna yang saling berkaitan dengan hakikat penciptaan manusia.
Pertama, fitrah dimaknai sebagai al-ibda’ atau permulaan penciptaan. Makna ini merujuk pada konsep bahwa Allah SWT adalah pencipta pertama dari segala sesuatu di alam semesta. Dalam Al-Qur’an, makna tersebut tercermin dalam beberapa ayat yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mendahului penciptaan Allah.
Kedua, fitrah juga diartikan sebagai proses penciptaan manusia itu sendiri. Dalam Surah Yasin ayat 22 disebutkan bahwa manusia seharusnya menyembah Tuhan yang telah menciptakannya. Kata faṭaranī dalam ayat tersebut memiliki makna yang sepadan dengan kata khalaqtanī, yakni “yang telah menciptakanku”.
Selain itu, fitrah juga dimaknai sebagai tauhid, yakni pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ar-Rum ayat 30 yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, yakni kondisi suci yang mengakui keesaan Allah. Fitrah tersebut telah melekat sejak manusia belum lahir ke dunia.
Melalui pemahaman tersebut, Idulfitri dapat dimaknai sebagai momen kembalinya manusia kepada keadaan fitrah. Setelah menjalani proses spiritual selama Ramadan, umat Islam diharapkan kembali pada kesucian hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
Dengan demikian, Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga pengingat bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan dalam keadaan suci. Momentum ini mengajarkan umat Islam untuk terus menjaga nilai-nilai kebaikan, mempererat persaudaraan, serta menjalani kehidupan sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. (*)
