KETIK, YOGYAKARTA – Muhammad Sheva Athaya (21) yang akrab dipanggil Sheva adalah seorang sastrawan muda fenomenal. Karya-karyanya melalang buana di dunia sastra Jogja.
Pada tahun 2023, ia sukses menjuarai lomba cipta puisi tingkat kota dan provinsi yang diselengarakan oleh Dinas Budaya DIY.
Namun, dalam perjalanannya tak selalu mudah. Saat pemuda kelahiran Yogyakarta itu berumur 9 tahun, ia dihadapkan realita bahwa kedua orang tuanya memilih berpisah. Hal itu membuatnya bingung.
Baginya, ia tidak mendapatkan penjelasan mengenai apa yang terjadi serta dukungan eksternal.
Kondisinya terpuruk ketika mengetahui bahwa ibu dan ayahnya tak lagi bersama. Pria kelahiran 2005 itu serta saudara kandungnya pun memilih ikut dengan ibunya. Ibunya sendiri memilih bekerja di salah satu mall yang berada di Jogja untuk menghidupi ketiga anaknya itu.
Ia berkeyakinan juga, bahwa berlarut-larut dalam masalah atau kejadian tak akan mengubah apapun. Baginya, akan lebih indah apabila kita meninggalkan bekas di dunia yang hampa ini.
"Karena sudah terjadi, justru saya harus menciptakan sesuatu dari kehampaan, menciptakan gelombang di ketenangan," imbuhnya.
Berangkat dari kejadian tersebut, ketertarikannya pada puisi pun dimulai. Menurut anak ke-2 dari 3 bersaudara itu, dirinya kurang memiliki passion di bidang akademik. Karena baginya, bidang akademik “kurang mewakili” jiwanya.
Muhammad Sheva dan bandnya mengisi acara di halaman salah satu fakultas di Universitas Gajah Mada (Foto: dok. narasumber)
Mahasiswa Filsafat UGM itu memilih puisi karena puisi adalah kata-kata. Baginya, kata-kata dapat dijual, di manapun ia diketik dan ditulis.
Selain itu, baginya hari-hari yang ia lalui terasa seperti merobek kalender di dinding kamar. Maka dari itu dibutuhkan pemaknaan agar hari tak terasa kosong.
Pria berusia 21 tahun ini mulai aktif menulis puisi sejak ia berada di bangku SMP, tepatnya saat ia kelas 1. Baginya, saat berada di periode awal ini, tulisan adalah hal yang benar-benar nyata dan bobot substansinya benar-benar ada.
"Tapi setelah mendalami Six Eyes, posisi kata-kata menjadi fiktif,” ucap pria yang hobi minum coca-cola itu.
Pada masa pandemi covid, Sheva mengisi hari dan malamnya untuk melakukan perenungan, menonton anime, membaca buku dan menulis puisi.
Pada masa-masa inilah menurutnya puisi yang ia buat meningkat. Ditemani kopi hitam, kertas, dan bolpoin, karya-karyanya lahir. Ia menyebut periode ini adalah periode Burung Hantu.
Salah satu puisi yang lahir dari perpanjangan tangan dan pahitnya pandemi berjudul “Sagan ; 1”. Puisi ini juga yang membawa dirinya menjuarai lomba cipta puisi tingkat kota itu.
Karena kepiawaiannya dalam berpuisi, tak jarang guru memuji karyanya. Bahkan seorang dosen pernah menyampaikan bahwa puisinya akan sangat menarik apabila diulik menggunakan teori semiotika konvensional.
Namun, tak selalu puisi yang ia garap. Pada tahun pertama di bangku SMA, ia menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di bidang cipta lagu. Ia sendiri tak pernah benar-benar mendalami cipta lagu. Ia mengaku bahwa bidang cipta lagu berangkat dari hobi semata.
Di saat yang bersamaan pula, ia mempelajari teater. Ia yakin lewat bermacam disiplin seni yang ia jalani, hal tersebut tidak melimitasi fokusnya dengan yang lain, justru dengan pengalaman di satu bidang melengkapi bidang seni yang lain.
Ia pertama kali mendapatkan relasi dengan Dinas Budaya DIY karena mengikuti program mereka, temu karya sastra (TKS). Di TKS, ia belajar bidang lain selain puisi, seperti menulis cerpen dan naskah lakon.
Pria yang menjabat sebagai ketua Teater Gajah Mada (TGM) periode 2025/2026 tersebut membeberkan bagaimana caranya bangkit dari situasi yang tidak menyenangkan itu.
Belajar Hidup dari Karakter Anime
Baginya, selain karena bercita-cita membahagiakan ibundanya, “penopang” yang membuatnya tetap hidup adalah karakter fiksi yang berasal dari anime.
Belajar dari tokoh utama anime Great Teacher Onizuka, ia meyakini bahwa sesuatu tidak ada yang mustahil. Onizuka (tokoh utama anime tersebut) sendiri adalah seseorang yang bercita-cita menjadi guru. Yang membuatnya tak yakin menjadi guru adalah masa lalunya; ia adalah seorang anggota geng motor. Namun berkat kerja keras, akhirnya ia menjadi guru.
“Kita tidak bisa membantah fakta bahwa mereka (karakter anime) fiksi. Akan tetapi, pada ranah gagasan, tidak penting bahwa ia fiksi atau nyata. Artinya, gagasan yang anime bawa benar-benar nyata dan berdampak. serta kenyataan kontras story telling anime, secara tidak sadar memberikan kita gambaran tentang harapan, tentang hal-ha yang ideal. perlu digarisbawahi juga bahwa kontras yangditawarkan oleh anime mampu membawa seseorang masuk kedalam kecenderungan untuk lari dari masalah yang ia miliki, eskapisme," ujarnya.
Ia menambahkan sekaligus berpesan bahwa manusia ibarat kertas kosong. Di dalam kertas itu ada coretan pengalaman personal orang. Ada yang dari penghayatan, ada yang tercitra dari indranya dan yang paling penting adalah hal-hal yang membentuk diri kita. dan yang paling sering kita lupakan adalah fakta bahwa kita bisa menulis apapun di atas kertas kosong itu. (*)
