KETIK, KENDAL – Pagi yang tenang di Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, menyuguhkan pemandangan yang tak biasa bagi setiap pelancong yang melintas. Sebuah struktur bangunan putih berdiri gagah dengan arsitektur khas masa lalu, lengkap dengan sebuah meriam kuno yang berjaga di depannya. Itulah Gapura Pungkuran, salah satu Cagar Budaya kebanggaan warga Kaliwungu yang menyimpan sejuta cerita tentang kejayaan masa lalu.
Saksi Bisu Kejayaan Islam dan Perlawanan
Secara historis, Gapura Pungkuran bukan sekadar pintu masuk biasa. Bangunan ini merupakan penanda pintu masuk menuju kompleks pemakaman para wali dan ulama besar Kaliwungu, termasuk makam Kiai Guru (Asyari). Berdasarkan catatan sejarah, kawasan Pungkuran yang berasal dari kata "pungkur" atau belakang, dahulu merupakan pusat syiar Islam sekaligus benteng pertahanan.
Keberadaan meriam di depan gapura menjadi bukti otentik bahwa Kaliwungu bukan hanya pusat edukasi religi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam peta pertahanan wilayah Kendal di masa kolonial.
Pagi ini, sempat berbincang dengan Mas Din, warga asli Kaliwungu yang menghabiskan masa kecilnya di sekitar kawasan tersebut. Sambil menunjuk ke arah tulisan aksara Jawa di atas lengkungan gapura, ia berbagi pengalamannya.
"Bagi kami warga Kaliwungu, Gapura Pungkuran ini seperti 'gerbang waktu'. Sejak saya kecil sampai sekarang, wibawanya tidak berubah. Kalau lewat sini, ada rasa hormat tersendiri karena ini akses menuju makam para leluhur dan guru kami," ujar Mas Din saat ditemui jurnalis Ketik.com di lokasi, Selasa, 20 Januari 2026.
Mas Din juga menambahkan bahwa perawatan gapura ini dilakukan secara gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. "Kami bangga karena pemerintah sudah menetapkannya sebagai Cagar Budaya. Ini penting supaya anak cucu kami nanti masih bisa melihat bukti bahwa Kaliwungu adalah kota pejuang dan kota santri," lanjutnya.
Mengapa Gapura Pungkuran Penting?
Secara administratif, berdasarkan papan informasi yang terpasang, Gapura Pungkuran telah dilindungi oleh Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Berikut adalah beberapa alasan mengapa situs ini menarik untuk dikunjungi:
- Arsitektur Akulturasi: Memadukan gaya bangunan kolonial dengan sentuhan lokal dan simbol-simbol Islam.
- Simbol Historis: Merupakan titik awal penelusuran sejarah penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Tengah.
- Wisata Religi: Menjadi ikon yang menyambut ribuan peziarah dari berbagai daerah setiap tahunnya, terutama saat peringatan Syawalan.
Kini, Gapura Pungkuran tetap berdiri tegak di tengah modernisasi bangunan di sekitarnya. Ia seolah berbisik kepada setiap orang yang lewat, bahwa kemajuan masa depan tak boleh melupakan akar sejarah masa lalu.
