KETIK, SURABAYA – Sebanyak 82,9 persen anak muda menyatakan dukungannya terhadap gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diinisiasi oleh Muhammadiyah.
Dukungan ini terungkap dalam survei nasional yang dirilis oleh Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Senin, 30 Maret 2026, yang melibatkan 758 responden berusia 17-40 tahun.
Kepala PSKP UAD, Azaki Khoirudin, menjelaskan bahwa selain 82,9 persen responden yang setuju, terdapat 11,7 persen yang belum mengetahui program tersebut, dan hanya 5,4 persen yang menyatakan tidak setuju.
Menurutnya, tingginya angka “tidak tahu” dibanding penolakan menunjukkan bahwa tantangan utama terletak pada aspek sosialisasi, bukan resistensi. "Angka 'tidak tahu' lebih besar dari penolak menunjukkan tantangan Muhammadiyah adalah edukasi, bukan penolakan," ujarnya.
Ia menilai, banyak anak muda mulai lelah dengan perbedaan penentuan hari raya yang terjadi setiap tahun. Karena itu, KHGT dianggap sebagai solusi praktis yang menawarkan kepastian.
Pendekatan yang menggabungkan landasan keagamaan dengan perhitungan astronomi modern juga dinilai selaras dengan karakter generasi muda yang cenderung menyukai hal yang jelas dan tidak rumit.
"Anak muda mungkin sudah resah dengan debat penentuan lebaran tiap tahun. Survei PSKP membuktikan bahwa 82 persen sudah 'move on' dan dukung penuh KHGT. Tantangan terbesar bukan mereka yang tolak, tapi yang belum tahu," tegas Azaki.
Lebih lanjut, Azaki menyebut dukungan ini sebagai sinyal kuat atas penerimaan publik terhadap upaya pembaruan kalender Islam yang diusung Muhammadiyah.
Ia melihat KHGT sebagai langkah modern untuk menjawab persoalan klasik umat, sekaligus menjadi upaya menyatukan penentuan waktu ibadah secara global.
"Data sinyal visi besar Muhammadiyah untuk satukan umat lewat sains disambut hangat Gen Z dan Milenial. KHGT solusi modern untuk masalah klasik umat," pungkasnya.(*)
