KETIK, MALANG – Bursa Calon Ketua KONI Kabupaten Malang terus bermunculan. Salah satunya adalah Ketua Komisi IV Zia'ul Haq yang juga masuk kandidat utama dalam perebutan jabatan tersebut.
Zia'ul Haq yang juga mantan pegiat sekaligus aktivis Anti korupsi itu, maju dengan membawa agenda pembenahan tata kelola. Dan semangat antikorupsi, isu yang selama ini kerap luput dari sorotan dalam pengelolaan olahraga daerah.
Sebagai informasi, KONI Kabupaten Malang bakal menggelar Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) pada 14 Februari 2026 mendatang. Sedangkan pendaftaran dibuka pada awal bulan Februari 2026.
Menanggapi hal itu, Zia’ul Haq menegaskan KONI tidak bisa lagi dikelola dengan pola dan cara cara jadul. Dibutuhkan transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam pengelolaan dana hibah
Hal itu disebutkan Politisi Gerindra ini sebagai titik krusial yang harus dibenahi jika KONI ingin melahirkan prestasi dan bukan sekadar menjalankan rutinitas organisasi.
“KONI ini besar. Apalagi prestasi olahraga kita di Kabupaten Malang masih cukup bagus. Jika KONI ingin maju, maka dari segi pengelolaannya harus jelas dan bisa diaudit. Jangan lagi ada sekat dan ruang abu-abu, terutama soal dana hibah. Harus ada transparansi,” tegas ujar Zia ditulis Jumat, 30 Januari 2026.
Lebih lanjut ia siap membawa KONI menjadi lebih baik lagi dengan dukungan 15 cabang olahraga. Lemahnya tata kelola menjadi salah satu faktor yang menghambat pembinaan atlet.
"Karena prestasi baik, tidak lahir dari seremoni, tetapi dari sistem yang bekerja secara disiplin dan bersih," ucapnya.
Selain perbaikan tata kelola KONI secara menyeluruh, Zia juga menyesalkan minimnya pembinaan atlet. Ia menilai Pusat Latihan (Puslat) selama ini belum ditempatkan sebagai jantung pembinaan. Prestasi atlet yang baik, ditempa melalui pusat latihan yang mumpuni dan dilakukan secara kontinyu.
"Prestasi atlet tidak bisa diraih secara instan. Sehingga apabila pusat latihannya saja lemah, jangan berharap meraih banyak prestasi. Harus ada pemetaan atlet sejak dini, bukan mendadak saat ajang Porprov,” tegasnya
Untuk mendongkrak kualitas, Zia yang juga menjadi Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Malang itu, tidak menutup kemungkinan untuk mendatangkan pelatih asing.
" Langkah ini penting agar pembinaan atlet tidak berjalan stagnan dan mampu mencetak atlet multi-medali melalui program yang terukur," terangnya.
Soal kesejahteraan atlet, sambung ia, menjadi pokok utama yang harus diwujudkan. Pihaknya menargetkan ada peningkatan uang saku atlet pada gelaran Porprov Jawa Timur tahun 2027 mendatang. Sehingga, atlet dapat bertanding secara profesional tanpa dibebani persoalan non-teknis.
“Pada Porprov 2027 mendatang realistisnya KONI harus bisa masuk tiga besar. Hanya saja, hal itu bisa tercapai apabila pembinaan serius. Keberhasilan atlet meraih medali, juga wajib dihargai secara layak. Kabupaten Malang punya cabor unggulan, masalahnya selama ini optimal atau tidak,” urainya.
Zia menambahkan, olahraga daerah tidak boleh lagi dikelola sekadar formalitas organisasi. KONI harus menjadi institusi yang bersih, terukur, dan berorientasi prestasi, bukan sekadar penyalur anggaran.
Perihal anggaran dirasa sangat minim, sambung Zia, pihaknya juga berharap pemerintah daerah turut andil dalam mengangkat prestasi atlet dengan memberikan reward. Sehingga, pihaknya juga berharap ada penambahan anggaran bagi KONI pada Komisi 4 DPRD selaku mitra KONI.
“Investasi jangka panjang ada dalam olahraga. Kalau dikelola setengah-setengah, hasilnya pasti juga setengah-setengah. Sudah saatnya KONI Kabupaten Malang berubah, menjadi lebih baik dengan banyak mengukir prestasi," pungkasnya. (*)
