KETIK, BONDOWOSO – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso melakukan kunjungan ke Pendopo Bupati Bondowoso, Rabu, 7 Januari 2026.
Kunjungan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang dialog antara partai politik dan pemerintah daerah terkait arah pembangunan Bondowoso ke depan.
Rombongan PDIP Bondowoso dipimpin langsung Ketua DPC Sinung Sudrajat.
Dalam pertemuan itu, Sinung menyampaikan kesiapan partainya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam mengawal pembangunan daerah agar berjalan berkelanjutan dan berpihak pada kepentingan rakyat.
“Kami siap bersinergi, karena ini ikhtiar bersama. Namun pondasi pembangunan Bondowoso hari ini tidak boleh rapuh dan tidak boleh salah arah. Ini fase penting bagi masa depan daerah,” ujar Sinung ke Bupati Bondowoso.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid saat menerima kunjungan dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso. (Foto: Haryono/Ketik.com)
Menurut Sinung, Bondowoso memiliki modal sosial, budaya, dan kearifan lokal yang kuat, termasuk posisi strategis sebagai bagian dari Ijen UNESCO Global Geopark.
Pengakuan internasional tersebut dipandang sebagai tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat.
“Geopark bukan hanya soal pariwisata. Ini tentang bagaimana pembangunan dijalankan tanpa menghilangkan jati diri Bondowoso,” katanya.
Sebagai partai wong cilik, PDIP Bondowoso tetap menjadikan Trisakti Bung Karno sebagai arah perjuangan.
Di bidang politik, partai menyatakan sikap menolak eksploitasi alam yang berpotensi memicu bencana serta mendorong penguatan kedaulatan rakyat.
Di sektor ekonomi, PDIP mendorong kemandirian melalui penguatan UMKM, ketahanan pangan, pengembangan kopi Bondowoso ke pasar global, serta pengembangan geowisata berbasis masyarakat.
Sementara di bidang kebudayaan, perhatian diarahkan pada pelestarian tradisi lokal, penguatan identitas Bondowoso sebagai kota megalitikum Jawa Timur, serta peran pesantren dalam pembentukan karakter bangsa.
Dalam pertemuan tersebut, Sinung juga memaparkan rencana kegiatan strategis berbasis potensi daerah, salah satunya event trail running yang melibatkan komunitas dan sektor nonpemerintah tanpa membebani APBD.
Model kolaborasi ini dinilai sebagai contoh konkret pembangunan partisipatif.
Dalam perbincangan tersebut, Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid menyambut baik ajakan sinergi yang dibangun secara kritis dan konstruktif.
Pemerintah daerah, kata dia, terbuka terhadap kolaborasi dengan seluruh elemen politik selama berpihak pada kepentingan rakyat.
“Pemerintah Kabupaten Bondowoso terbuka terhadap sinergi dengan partai politik, termasuk PDI Perjuangan. Yang terpenting, kita memiliki visi yang sama untuk membangun Bondowoso secara berkelanjutan, menjaga alam dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati.
Ia juga menyampaikan bahwa status Ijen UNESCO Global Geopark harus menjadi pijakan bersama dalam merumuskan kebijakan pembangunan, bukan sekadar simbol prestasi.
“Geopark adalah amanah. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dan kontrol dari partai politik serta masyarakat sangat dibutuhkan,” tambahnya.
Dengan sikap politik yang tegas namun terbuka, PDIP Bondowoso menempatkan diri sebagai mitra pemerintah yang siap mendukung pembangunan sekaligus mengawal agar kebijakan daerah tetap berpijak pada kepentingan rakyat dan masa depan Bondowoso.
“PDIP siap bersinergi, namun pondasi Bondowoso harus kokoh. Ini bukan hanya soal hari ini, melainkan tentang generasi Bondowoso ke depan,” pungkas Sinung.
Sebagai informasi, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bondowoso menegaskan arah politiknya pasca Kongres VI PDI Perjuangan 2025 dengan mengedepankan konsolidasi internal dan peneguhan garis perjuangan partai.
Sikap tegak lurus terhadap keputusan kongres ditegaskan sebagai landasan sebelum partai melangkah lebih jauh dalam peran eksternal, khususnya dalam mengawal pembangunan daerah.
Fokus utama partai saat ini adalah membangun kekuatan dari dalam melalui penguatan lima mantap partai: ideologi, organisasi, program, kader, dan sumber daya.
Menurutnya, tanpa fondasi internal yang kokoh, peran politik partai di ruang publik akan kehilangan arah.(*)
