KETIK, MALANG – Pemerintah Kota Malang siap menyambut proyek drainase baru di tahun 2026 ini. Rencananya, proyek tersebut mendapatkan kucuran dana dari Bank Dunia.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menjelaskan, alokasi dana dari Bank Dunia digunakan untuk pembangunan konstruksi infrastruktur saluran. Hal tersebut sebagai upaya mengatasi persoalan banjir di Kota Malang.
"Kita bersyukur bahwa di tahun 2026 ini nanti kita akan melaksanakan pembangunan konstruksi untuk infrastruktur saluran yang sumber anggarannya dari Bank Dunia. Ini sangat besar sekali," ujar Dandung, Senin, 2 Februari 2026.
Pemkot Malang telah memetakan titik-titik krusial yang selama ini menjadi langganan banjir dan banyak dikeluhkan masyarakat. Mulai dari Jalan Bondowoso hingga ke Tidar, serta Jalan Letjen Sutoyo ke Jalan Jaksa Agung Suprapto.
Untuk Jalan Bondowoso hingga ke Tidar, saluran air akan diarahkan langsung menuju Sungai Metro. Sedangkan kawasan Jalan Letjen Sutoyo hingga Jaksa Agung Suprapto diproyeksikan untuk menangani banjir di Jalan Ciliwung dan Kedawung.
"Rencananya dimulai tahun ini. Mudah-mudahan setelah lebaran 2026 nanti sudah dimulai," lanjutnya.
Dandung menjelaskan, barulah setelah itu dilakukan penanganan saluran pada sirip-sirip yang mengarah ke perkampungan. Harapannya air yang selama ini masuk dan menyebabkan banjir di perkampungan dapat tertampung di saluran utama.
"Air-air yang selama ini melalui kampung nanti bisa masuk ke saluran utama. Baik yang di Letjen Sutoyo maupun di Bondowoso. Langsung teralirkan ke Sungai Metro untuk yang Bondowoso atau ke Sungai Brantas untuk yang di Letjen Sutoyo dan Jaksa Agung Suprapto," jelas Dandung.
Penanganan banjir yang bersumber dari Bank Dunia ini menjadi salah satu upaya menuntaskan salah satu PR besar di Kota Malang. Mengingat dalam Masterplan Drainase yang telah dirancang, Kota Malang ditargetkan bebas dari banjir pada 2028.
Namun Dandung mengingatkan bahwa rencana tersebut dapat berjalan maksimal dengan kerja sama dari masyarakat. Ia meminta agar masyarakat berpartisipasi dalam menjaga dan merawat saluran air.
"Kalau masyarakat menjadikan saluran sebagai tempat sampah yang besar juga tidak akan berfungsi, percuma. Panenan (sampah) kita setiap kali melakukan normalisasi saluran itu banyak sekali," tutupnya. (*)
