KETIK, MALANG – Dalam 1 tahun, Kota Malang dapat menghasilkan komoditas cabai hingga 3.000-4.000 ton untuk 30 kali masa panen. Permintaan cabai saat ini semakin meningkat, salah satunya akibat kehadiran mahasiswa.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menjelaskan, tingkat konsumsi cabai di masyarakat memang fluktuatif. Namun hadirnya mahasiswa cenderung membuat permintaan cabai di pasar meningkat.
"Kalau kebutuhan itu fluktuatif. Kaya saat ini karena mahasiswa sudah mulai masuk aktivitas, kebutuhan cabai meningkat. Kalau tidak masa itu, juga berkurang," ujarnya, Rabu, 4 Maret 2026.
Meskipun produksi cabai di Kota Malang dalam setahun bisa mencapai 4.000 ton, Slamet menegaskan bahwa angka tersebut tidak menjamin kecukupan pasokan setiap waktu. Hal ini karena pola panen di masing-masing lahan dapat berbeda dan tidak bersamaan.
"Setiap masa tanam lahan cabai itu berbeda-beda. Jadi tidak bisa diukur secara keseluruhan ditotal 40 ditambah 25 hektar lahan pertanian cabai itu mencukupi kebutuhan, tidak bisa. Karena tergantung masa panen masing-masing lahan," tegasnya.
Untuk mencukupi kebutuhan cabai, Kota Malang masih harus bergantung pada daerah lain. Beberapa daerah yang biasa menjadi sasaran kerja sama ialah Banyuwangi, Lumajang, Bali, dan daerah lainnya.
"Jadi cabai ini banyak komoditas yang memonitor. Tiap detik itu harga bisa berubah. Begitu di Kota Malang harganya menurut mereka bagus, naik, cabai masuk. Begitu masuk, menurun. Seperti itu hukum pasar," terangnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah melalui Diskopindag Kota Malang mengandalkan program Warung Tekan Inflasi (WTI). Tak hanya itu, melalui Dispangtan Kota Malang, dukungan berupa fasilitasi benih cabai setiap tahun terus diberikan.
Termasuk bantuan sarana prasarana seperti tandon air, mulsa, hingga hand tractor juga diberikan, salah satunya melalui dukungan program CSR Bank Indonesia (BI).
"Kalau obat mayoritas dari petaninya sendiri. Kalau dari Dispangtan setiap tahun memfasilitasi benih cabainya. Kemudian untuk tandon air, karena mayoritas lahan cabai ini tadah hujan, itu ada CSR dari BI berupa tandon air, kemudian mulsa air, dan hand tractor," tutupnya. (*)
