KETIK, BATU – Upaya mendorong penguatan sektor pertanian dan pariwisata berbasis riset terus dilakukan Pemerintah Kota Batu melalui penjajakan kerja sama dengan Graduate School of International Development (GSID) Nagoya University, Jepang dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB).
Pertemuan berlangsung di Gedung Bina Praja, Rumah Dinas Wali Kota Batu pada Rabu, 18 Februari 2026, dan dihadiri sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemkot Batu, tenaga ahli wali kota, akademisi FEB UB.
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan kolaborasi internasional harus melahirkan program yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam memperkuat dua sektor utama penopang ekonomi daerah tersebut.
“Kerja sama ini tidak boleh berhenti pada forum akademik semata. Kami ingin ada hilirisasi riset yang benar-benar dapat diterapkan, direplikasi dan diintegrasikan dalam kebijakan daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, riset yang dikembangkan harus selaras dengan kebutuhan riil daerah agar manfaatnya bisa dirasakan secara konkret oleh masyarakat.
“Kami berharap program ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan menghadirkan kontribusi nyata. Kolaborasi riset harus menjawab kebutuhan daerah dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” kata Nurochman.
Pemkot Batu, kata wali kota, juga mendorong keterlibatan perangkat daerah sejak tahap perencanaan. Langkah tersebut dinilai penting agar rekomendasi akademik dapat segera diterjemahkan menjadi program lintas sektor yang implementatif dan terukur.
Dalam kesempatan sama, perwakilan GSID Nagoya University Prof. Isamu Okada menyampaikan rencana pengiriman 15-20 mahasiswa program magister (S2) pada September mendatang.
Program tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama antara akademisi Jepang dan Pemkot Batu dalam merumuskan model pembangunan berbasis potensi lokal.
Tim GSID turut memaparkan sejumlah praktik pembangunan di Jepang yang dinilai relevan untuk dikaji di Kota Batu. Salah satunya konsep “Michi-no-Eki”, yakni fasilitas terpadu di tepi jalan utama yang berfungsi sebagai rest area sekaligus pusat promosi produk lokal dan UMKM.
Selain itu, dipresentasikan pula pengembangan pertanian berbasis wisata pengalaman (experiential tourism), serta strategi pengemasan komoditas unggulan seperti mangga premium dari Prefektur Miyazaki dengan standar kualitas tinggi dan nilai jual eksklusif.
Model-model tersebut dinilai selaras dengan karakter Kota Batu yang memiliki kekuatan di sektor hortikultura dan pariwisata. Ke depan, penjajakan kerja sama ini akan ditindaklanjuti melalui penyusunan rencana kerja yang lebih teknis, terukur dan berorientasi pada hasil. (*)
