KETIK, MALANG – Di sebuah sudut tenang wilayah Wagir, Kabupaten Malang, berdiri Pesantren Darma Nawa. Tempat ini bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan oase spiritual bagi mereka yang tengah mencari arah hidup.
Di bawah asuhan Haji Umar Faruq, S.Hum., M.Pd., atau yang akrab disapa Bang Umar, pesantren ini telah menjadi rumah bagi puluhan orang untuk memperdalam keyakinan mereka.
Berbeda dengan pesantren pada umumnya yang menonjolkan diksi Arab yang kental, Darma Nawa memilih identitas yang terasa lebih membumi dan netral. Strategi ini diambil Bang Umar sejak merintis pesantren pada 2013 guna menyesuaikan diri dengan kondisi sosial masyarakat setempat yang sangat heterogen.
“Agar masyarakat tetap merasa nyaman, kami memilih nama yang tidak terlalu ‘terkesan jauh’. Yang penting esensinya tetap ada,” ujar Bang Umar, Selasa, 17 Maret 2026.
Agar tidak menimbulkan jarak atau ketidaknyamanan secara emosional, dipilihlah nama Darur Ruhama Ahlussunnah Waljamaah (Darma Nawa). Nama ini tetap memiliki makna mendalam, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih inklusif agar bisa diterima oleh semua kalangan.
Awal berdirinya pun sangat sederhana. Kegiatan mengaji pertama kali dilakukan di lahan kosong, bahkan di rumah yang sudah dibongkar. Tidak ada bangunan megah, hanya niat dan semangat untuk berbagi ilmu.
“Dulu kami mulai dari nol, ngaji di tempat seadanya. Belum ada bangunan seperti sekarang,” kenangnya.
Meski fasilitas terbatas, daya pikat spiritual tempat ini justru sangat kuat. Hanya dalam waktu empat bulan sejak aktivitas dimulai, seorang warga datang menyatakan niatnya untuk memeluk Islam. Momen tersebut menjadi titik balik Darma Nawa sebagai pusat pembinaan mualaf.
“Sekitar empat bulan berjalan, sudah ada yang datang minta dibimbing syahadat. Dari situ mulai berdatangan yang lain,” jelasnya.
Seiring waktu, semakin banyak orang yang datang dengan berbagai latar belakang. Mereka bukan hanya ingin belajar Islam, tetapi juga mencari pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan beragama.
Menurut Bang Umar, pendekatan yang dilakukan tidak kaku. Ia lebih menekankan pada perubahan perilaku secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana seperti bersikap baik kepada orang tua, menjaga hubungan keluarga, hingga menampilkan akhlak yang baik menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
“Kami tidak memaksa harus langsung berubah total. Yang penting pelan-pelan, dari sikap dan kebiasaan sehari-hari,” tuturnya.
Pendekatan yang humanis ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Banyak kisah di mana perubahan kecil dalam sikap justru berdampak besar, bahkan mampu memengaruhi lingkungan sekitar.
Hingga kini, tercatat sedikitnya 34 orang yang secara resmi mengucapkan syahadat dan dibina di bawah naungan Darma Nawa. Namun, Bang Umar meyakini angka aslinya jauh lebih tinggi karena tidak semua yang datang ingin didata atau didokumentasikan.
“Ada juga yang datang tidak mau didata atau difoto, jadi jumlah aslinya kemungkinan lebih dari itu,” tambahnya.
Selain fokus pada mualaf, pesantren ini juga aktif menyelenggarakan pendidikan Al-Qur'an (TPQ) bagi anak-anak sekitar dengan kurikulum yang terstruktur. Hal ini dilakukan untuk membangun generasi muda yang memahami nilai-nilai agama sejak dini.
Perjalanan panjang dari tahun 2013 hingga sekarang menunjukkan bahwa keberadaan Pesantren Darma Nawa bukan hanya tentang bangunan fisik, tetapi tentang proses, pendekatan, dan ketulusan dalam membimbing masyarakat.
“Yang kami lakukan sederhana, hanya mendampingi. Tapi semoga bisa memberi manfaat untuk banyak orang,” pungkas Bang Umar.
Dari sebuah pekarangan kosong, kini tempat ini telah menjadi ruang harapan bagi banyak orang untuk belajar, berubah, dan menemukan arah hidup baru. (*)
